Minggu, 23 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
SEJARAH PERJUANGAN MASYARAKAT MALOMBA KEC. DONDO
SEJARAH SINGKAT PERISTIWA PERLAWANAN RAKYAT MALOMBA KECAMATAN DONDO KAB. TOLITOLI TERHADAP PEMERINTAH JEPANG
TANGGAL 18 JULI 1945
Sebagaimana kita ketahui bahwa Bangsa Indonesia selama 350 tahun dijajah oleh Bangsa Belanda. Nanti pada akhir tahun 1941, pemerintah Belanda menyerah kepada pemerintah Jepang.Pemerintah Jepang mulai berkuasa di Indonesia awal tahun 1942. Pada permulaan pemerintahan Jepang tehadap Bangsa Indonesia sangat baik. Sampai adanya jembatan dari pemerintah Jepang, Indonesia – Jepang sama-sama.
Tapi setelah pemerintahan Jepang berjalan 2 tahun di Indonesia mulailah mengganas. Dalam menjalankan pemerintahan. Masyarakat dipaksa bekerja untuk kepentingan Jepang, ada kesalahan sedikit dilakukan oleh masyarakat maka, diadakan hukuman (pemukulan), kemudian masyarakat dipaksa berkebun dan bertani. Hasilnya 75 % diambil oleh pemerintah Jepang, sehingga akibatnya masyarakat kesulitan makanan dan juga pakaian.
Pokoknya selama pemerintahan Jepang, masyarakat menderita kehidupannya. Akhir bulan Juli 1945 seorang penduduk Malomba yang merantau kurang lebih 30 tahun di Kalimantan, bernama Tantong Karonjani kembali ke Malomba. Oknum inilah yang membawah berita bahwa pemerintah Jepang telah menyerah terhadap pemerintah sekutuh (Amerika, Inggris, Belanda).
Dasar berita inilah masyarakat Malomba, yang selama ini sangat menderita, mendorong untuk mengadakan musyawarah dengan maksud melawan kepada pemerintah Jepang.
Awal bulan Juli 1945 masyarakat Malomba mengadakan musyawarah dipimpin oleh Tantong karonjoni, musyawarah dilaksanakan dirumah bapak Radjaili yang pada saat itu sebagai ketua partai Syarikat Islam. Hadir dalam musyawarah tersebut terdiri dari dua Suku Bangsa yaitu suku Dondo dan suku Bugis semuanya penduduk Desa Malomba (kurang lebih 50 orang).
Dalam musyawarah menghasilkan sebagai berikut :
1. 1. Masyarakat Malomba harus mengadakan perlawanan kepada pemerintah Jepang.
2. 2. Penjagaan dibahagi dua yaitu arah Timur dan arah Barat.
3. 3. Arah timur dipimpin oleh Baula (suku Dondo)
4. 4. Arah barat dipimpin oleh Lasainong (suku Bugis)
Dengan catatan : jika musuh masuk dari arah Timur maka arah Barat membantu demikian sebaliknya.
Sekitar tanggal 7 Juli 1945 mulailah masyarakat Malomba mengadakan aksi hasil musyawarah yaitu menangkap dan mengikat tiga orang Polisi Jepang yang bertugas di Malomba yaitu Jos Pasla, Kare dan Manapo. Ketiga orang Polisi yang ditangkap ini diserahkan kepada kepala kampung Malomba (Logarodi). Tanggal 10 Juli 1945 ketiga polisi yang dalam pengawasan kepala kampung ini sempat melarikan diri. Manapo lari ketarakan kere lari ke Bambapula (dibunuh oleh masyarakat Bambapula) dan Jos Pasla lari ke Tolitoli. Yos Pasla inilah yang melaporkan kepada atasannya (pemerintah Jepang).
Dengan dasar laporan ini pemerintah Jepang mempersiapkan pasukan untuk menggempur masyarakat Malomba. Turut dalam rombongan pemerintah Jepang itu ialah : Imaki Ken Kanrikan (Bupati), Raja Tolitoli H. Moh saleh Bantilan, jum Po Co (Kepala Polisi) Danres dan Dua regu anggota polisi Jepang.
Rombongan berangkat dari Tolitoli menggunakan perahu turun di Malala, Langsung ke Tinabogan dan tepat hari kamis 18 Juli 1945 tiba di Malomba jam 11 siang inilah puncak peristiwa. Rombongan pemerintah Jepang pada saat itu disambut oleh masyarakat Malomba kurang Lebih 20 orang termasuk Lanoni, Bebelan, Taniangka, Mangi Darinong, Abd. Wahab, H. Hamsah DLL. Setelah bertemu dan berhadap-hadapan antara masyarakat dan Pemerintah Jepang, Jum po Co (kepala Polisi) Danres memberi Isyarat supaya masyarakat duduk dan senjata (parang) harus dibuang jauh-jauh. Sesudah masyarakat duduk semua dan parang masing-masing mereka sudah buang, berarti keadaan dalam suasana aman, seorang polisi Jepang bernama hamlet semen membuang tembakan keatas tanda aman. Tapi masyarakat sama sekali tidak mengetahui keadaan sedemikian itu, mereka mengartikan sudah mereka yang ditembak, tidak berpikir panjang lebar lagi langsung mengamuk. Lanoni langsung memotong Imaki Ken Kanrikan, Bebelan menikam JumPoco, suasana sudah kacau balau. Dalam keadaan demikian itu Imaki Ken Kanrikan dan Lanoni mati ditempat sedang bebelan dan H. Hamsah luka parah, tapi masih sempat menyingkirkan diri ketempat yang aman. Lanoni di makamkan di Desa Ogogasang dan Imaki Ken Kanrikan di Desa Tinabogan. Desa malomba pada saat itu tidak aman, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri sampai-sampai lari ke pantai timur (swapraja Moutong).
Satu bulan kemudian Pemerintah Jepang mengadakan operasi dan penangkapan kepada semua anggota pemberontak. Tantong Madayuni dan beberapa kawan sempat menyelamatkan diri kembali ke Kalimantan dan nanti meninggal dunia tahun 1985, di pulau Duawan Kab. Berau.
Sedangkan Bebelan, Taniangka Mangi Darinong, Muhsin, H. Hamsah, Amat, Baco Lena, Abd. Wahab, Usman, Adam Labada dan Labuoku (Ambo Ratu) ditangkap dan dibawah ke Tolitoli, langsung diadili. Keputusan dari pengadilan Jepang kepada 11 orang penduduk malomba tersaebut dijatuhi hukuman mati (dipancung) dikaki gunung Panasakan Kab. Tolitoli, sedangkan 7 orang hanya disiksa oleh pemerintah Jepang selama 3 bulan di tansi polisi Tolitoli, mereka ialah lamadu, Datu Radjaili, Jafar Bantilan, Baula, Patana dan Lasainong. Demi diketahui oleh masyarakat Kab. Tolitoli umumnya, peristiwa 18 Juli 1945 di Malomba dapat menyelamatkan rakyat Desa Nalu yang pada saat itu kurang lebih 1000 orang dalam tahanan Jepang karena mereka dituduh sebagai mata-mata musuh. Karena rencana pemerintah Jepang, sekembalinya Imaki Ken Kanrikan (Bupati) dari Malomba rakyat Nalu tersebut akan dipancung semua.
Tuhan Yang Maha Kuasa masih melindungi jiwa rakyat Nalu yang sudah direncanakan oleh pemerintah Jepang dibunuh.
Seandainya tidak ada perlawanan masyarakat Malomba 18 Juli 1945 itu pasti rakyat Desa Nalu kurang lebih 1000 orang sudah dibunuh.
Berkat adanya peristiwa tersebut maka, selamatlah rakyat Nalu dari Hukuman mati dari pemerintah Jepang.
Demikian riwayat singkat dari Persitiwa 18Juli 1945 di Malomba, semoga mendapat sambutan positif yang layak dari masyarakat demi generasi penerus.
Malomba 10 Juli 2011
Yang membuat
H. Mahmud Radjaili
Ketua Majelis Adat Dondo
Rabu, 12 Oktober 2011
TOLAK CPM HARGA MATI
TOLAK PT. CPM “HARGA MATI”
Masyarakat Desa Anggasan Kembali di risaukan oleh perusahaan tambang emas PT. Citra Palu Mineral yang mana perusahaan ini sudah melalui tahap eksplorasi dan selanjutnya tahap eksploitasi. Sampai sekarang kami masyarakat Desa Anggasan tidak pernah diperlihatkan Dokumen penelitian, Izin dan AMDAL, UKP, UPL serta Peta Lokasi perusahaan yang akan masuk di Desa kami. Olehnya itu kami masyarakat Desa Anggasan tidak ingin pemerintah dan perusahaan CPM merusak lingkungan kami dan terus membohongi masyarakat dengan informasi palsu maka dari itu kami masyarakat yang tergabung dalam “Gerakan Masyarakat Anggasan” menuntut :1. Tolak Pertambangan Citra Palu Mineral 2. Tolak Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat. 3. Tolak pengrusakan lingkungan di Desa Anggasan. 4. Stop Intimidasi terhadap rakyat. Kata Moh. Rifai M. Hadi (23 tahun) yang akrab di panggil Fhay ini bahwa izin dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) belum pernah diperlihatkan kepada masyarakat Desa Anggasan bahkan tahap sosialisasinya pun belum dilakukan. Implementasi AMDAL sangat perlu di sosialisasikan tidak hanya kepada masyarakat, padahal Keputusan Kepala BAPEDAL No.08 tahun 2000 tentang Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL. Peran serta masyarakat Semua kegiatan dan /atau usaha yang wajib AMDAL, maka pemprakarsa wajib mengumumkan terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL Dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan , masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Dalam proses pembuatan AMDAL peran masyarakat tetap diperlukan . Dengan dipertimbangkannya dan dikajinya saran, pendapat dan tanggapan masyarakat dalam studi AMDAL. Pada proses penilaian AMDAL dalam KOMISI PENILAI AMDAL maka saran, pendapat dan tanggapan masyarakat akan menjadi dasar pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Tapi sayangnya ketentuan diatas tidak pernah dilakukan sama sekali baik pihak manajemen PT. CPM maupun dari pemerintah sendiri. Kami hanya tidak mau lingkungan kami dirusak, kami hanya tidak mau sosial budaya kami berubah, kami hanya tidak mau ekonomi kami menurun drastis, seperti halnya daerah-daerah lain yang pernah atau yang sedang dalam penguasaan Perusahaan baik swasta maupun negara. Kata Moh. Rifa M. Hadi yang juga selaku Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo Kec. Dondo Kab. Tolitoli.
DESA ANGGASAN KEC. DONDO
SEJARAH
DESA
sUngai
yang membela pemukiman penduduk yang sekaligus pembatas antara dusun kubir dan
dusun jongin dahulu airnya sangat deras sehingga dari kejauhan gumuruh air yang
mengalir terdengar. Oleh karena itu suku Dondo dan Suku Lauje sebagai penduduk
asli daerah ini menyebtnya OGO ONGGA ONGGASAN atau Anggasan yang artinya Bunyi
air yang deras.
Desa
anggasan merupakan suatu desa yang baru di Kecamatan Dondo kab. Tolitoli, yang
sebelumnya adalah wilayah pemerintahan desa Malomba. Berdasarkan usulan dan
permohonan masyarakat, oleh p[emerintah kab. Tolitoli dikaji dan diteliti
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka dusun anggasan desa
malomba memenuhi syaat untuk dimekarkan.
Berdasarkan
peraturan daerah Kab. Tolitoli Nomor : 17 tahun 2007 tentang pemekaran desa
Buntuna, Ogosipat, Kongkomos, Anggasan dan Sese atau yang lebih dikenal
pemekaran BOKAS. Maka pada tanggal 5 Januari 2007 pemerintah kabupaten tolitoli
meresmikan pemekaran Dusun Anggasan Desa Malomba menjadi Desa tersendiri
terpisah dari desa induk yaitu Desa Malomba. Sekaligus melantik kepala Dusun
Anggasan yang telah menjabat selama 30 tahun yaitu Bapak Haiyun Baruadi sebagai
Kepala Desa Anggasan. Kemudian pada tahun 2008 masyarakat Desa Anggasan
melaksanakan pemilihan kepala Desa dan memberikan kepercayaan kepada bapak
Tamrin P. Sugantina sebagai kepala Desa Anggasan periode 2008-2014.
Desa
Anggasan merupakan satu dari 12 Desa yang ada dikecamatan Dondo dan di diami
oleh Suku Dondo, Suku Lauje dan masyarakat pendatang. Desa anggasan terdiri
dari 345 KK yaitu :
Laki-laki
: 788 Jiwa
Perempuan
: 757 Jiwa
Jumlah
penduduk : 1545 jiwa
Batas
–batas desa Anggasan :
Sebelah
Utara berbatasan dengan Desa Malomba
Sebelah
selatan berbatasan dengan kab. Parigi Moutong
Sebelah
Timur berbatasan dengan Desa Malomba
Sebelah
Barat berbatasan dengan Desa Ogowele
Oleh
karena itu jika berkunjng ke Desa Anggasan akan terdengar bunyi air yangderas
di sungai yang diambil dari kata Ogo Ongga Onggasan.
|
No.
|
Uraian
|
Keterangan
|
|
1.
|
Luas wilayah :
8000 Ha
|
|
|
2.
|
Jumlah Dusun :
4 (empat)
1.
Dusun kubir
2.
Dusun jongin
3.
Dusun sinungkud
4.
Dusun ta’anes
|
|
|
3.
|
Batas wilayah
|
|
|
4.
|
Topografi
a.
Luas kemiringan lahan (rata-2)
1.
Datar 350 Ha
2.
Pegunungan 4500 Ha
b.
Ketinggian di atas permukaan laut 400 m
|
|
|
5.
|
Hidrologi :
Ada pengairan
/mata air
|
|
|
6
|
Klimatologi :
a.
Suhu 27 - 32º C
b.
Curah hujan 3000/4000 mm
c.
Kelembaban udara
d.
Kece[atan angin
|
|
|
7.
|
Luas lahan
pertanian :
a.
Sawah teririgasi : 122,180 Ha
b.
Sawah tadah hujan : 6,280 Ha
|
|
|
8.
|
Luas lahan
pemukiman : 149 Ha
|
|
|
9.
|
Kawasan rawan bencana
:
a.
Banjir : 30 Ha
b.
Longsor : 50 Ha
|
|
|
10.
|
Orbitasi :
a.
Jarak ke Ibu Kota Prop : 360 Km
b.
Jarak kew Ibu kota Kab. : 110 Km
c.
Jarak ke ibu kota kec. : 20 Km
|
|
|
11.
|
Jumlah
penduduk :
a.
Jumlah total : 1545 jiwa
b.
Julah laki-laki : 788 jiwa
c.
Jumlah perempuan : 757 jiwa
d.
Jumlah KK : 345 KK
|
|
Keadaan Sosial Budaya Desa.
|
No.
|
Uraian
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1.
|
Kependudukan
a.
Jumlah penduduk (jiwa
b.
Jumlah KK
c.
Jumlah laki-laki
1.
0-15 tahun
2.
16-55 tahun
3.
Diatas 55 tahun
d.
Jumlah perempuan
1.
0-15 tahun
2.
16-55 tahun
3.
Diatas 55 tahun
|
1545
345
|
|
|
2.
|
Kesejahteraan
sosial
a.
Jumlah KK Prasejahtera
b.
Jumlah KK sejahtera
c.
Jumlah KK Kaya
d.
Jumlah KK sedang
e.
Jumlah KK miskin
|
133
|
|
|
3.
|
Timgkat
pendidikan
a.
Tidak tamat SD
b.
SD
c.
SLTP
d.
SLTA
e.
Diploma/sarjana
|
|
|
|
4.
|
Mata
pencaharian
a.
Buruh tani
b.
Petani
c.
Peternak
d.
Pedagang
e.
Tukang kayu
f.
Tukang batu
g.
Penjahit
h.
PNS
i.
Pensiunan
j.
TNI/POLRI
k.
Perangkat Desa
l.
Pengrajin
m.
Industir kecil
n.
Buruh industri
o.
Lain-lain
|
264
-
6
2
3
6
1
9
|
|
|
5.
|
Agama
a.
Islam
b.
Kristen
c.
Hindu
d.
Budha
|
1281
254
-
-
|
|
Daei
tabel diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Kependudukan
Jumlah usia produktif lebih banyak dibanding denan
usian anak-anak dan lansia. Perbandingan
usia anak-anak, produktif, dan lansia adalah sebagai berikut : 21% :61 % :18%.
Dari 1545 jumlah penduduk yang berada pada kategori usia prodkutif laki-laki
dan permupuan jumlahnya hampir sama/seimbang.
2. Kesejahteraan
Jumlah KK sedang mendominasi yaitu 29,2% dari total
KK, KK pra sejahtera 24 % KK sejahtera
17,9% KK kaya 16,3% dan KK miskin 12,5%. Dengann banyaknya KK Pra sejahtera
inilah maka desa Anggasan termasuk desa tertinggal.
3. Tingkat
pendidikan
Pembagian
wilayah desa
|
No.
|
Dusun
|
Jumlah
|
KK
|
|
1.
|
Kubir
|
544
|
119
|
|
2.
|
Jongin
|
528
|
122
|
|
3.
|
Sinungkud
|
212
|
39
|
|
4.
|
Ta’anes
|
261
|
65
|
Potensi
dan masalah
Ibidang
SARAN DAN PRASARANA
|
No.
|
Masalah
|
Potensi
|
|
1.
|
Jalan menuju
lokasi perkebunan masyarakat sempit, berbatu dan apabila hujan turun atau
musim hujan tuba susah untuk dilalui sehingga perlu dibuat jalan kantong
produksi
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
2.
|
Jalan menuju
lokasi perkebunan masyarakat sempit, berbatu dan apabila hujan turun atau
musim hujan tuba susah untuk dilalui sehingga perlu dibuat jalan kantong
produksi
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
3.
|
Apabia musim
hujan dan terjadi erosi diperkebunan warga dan ada beberapa rumah yang ditepi
sungai akan tergenang air sehingga perlu dibuatkan bronjong
|
Tersedia batu
dan tenaga kerja
|
|
4.
|
Jalan warga
dusun Kubir menuju kesinungkud dan desa Ogowele bila tiba Musim hujan yang
deras mengakibatkan jalan becek dan transportasi akan terganggu. Maka perlu
dibuatkan drainase di dusun kubir agar transportasi lancar
|
Tenaga
operasional tersedia
|
|
5
|
Apabila
terjadi hujan dan terjasi erosi rumah masyartakat dikomplkes pasar (dusun
jongin) akan digenangi air dan meluap ke rumah penduduk setempat. Jadi perlu dibuatka
bronjong
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
6.
|
Didepan
beberapa rumah warga pada musim hujan, air got yang ada meluaap kerumah
warga, jadi perlu adanya deker agar jalan lancar.
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
7.
|
Beberapa rumah
warga didusun kubir sering tergenang air. Untukitu warga mengharapkan adanya
deker
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
8.
|
Jalan dusun
jongin bila tiba musim hujan airnya akan meluap kejalan, sehingga akan
merusak jalan aspal yang ada. Untuk itu perlu dibuatkan drainase.
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
|
9.
|
Bila musim
hujan terjadi erosi disungai dan sring banjir sehingga warga sulit
menyeberang perlu dibuatkan jembatan penguhubung.
|
Tersedia batu,
sirtu dan tenaga kerja
|
Rencana
pembangunan Jangka Menengah
Visi
dan Misi
Visi
Visi
adalah suatu gambaran yang ,menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan melihat potensi dan
kebutuhan desa. Penyusunan visi desa dilakukan dengan pendekatan partisipatif,
melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan didesa anggasan seperti pemerintah
desa, BPD, Tokoh Maysarakat, tokoh Agama, lembaga Masyarakat Desa dan
Masyarakat desa pada umumnya. Pertimbangan kondisi eksternal didesa seperti
satuan kerja wilayah pembangunan di kecmatan dondo mempunyai titik sektor pertanian,
maka berdasarkan pertimbangan diatas Visi Desa anggasan adalah :
MEWUJUDKAN
DESA ANGGASAN MENJADI DESA MANDIRI MELALUI BIDANG PERTANIAN.
Nilai-nilai yang melandasi :
-
Selama bertahun-tahun Desa Anggasan
merupakan desa pertanian, desa yang Kaya akan sumber daya alam, hanya saja
penanganannya kurang maksimal.
-
Sebagian besar warga desa adalah petani
juga ada yang memlihara hewan ternak seperti dalam skala kecil, biasanya hanya
digunakan untul investasi jangkapendek.
Makna yang terkandung :
-
Terwujudnya
: terkandung
didalamnya peran pemerintah dalam mewujudkan desa Anggasan yang mandiri secara
ekonomi.
-
Desa
Anggasan : adalah satu kesatuan masyarakat hukum
dengan segala potensinya dalam sistem pemerintahan diwilayah desa anggasan.
-
Mandiri
: adalah suatu kondisi
kehidupan yang kreatif, inovatif, produktif dan partisipatif sehingga mampu
memenuhi kebutuhannya sendiri.
-
Pertanian
: bahwa
sektor pangan adalah hal utama dalam perekonomian, sehingga tidak akan terjadi
rawan pangan di desa Anggasan.
Misi
Desa
-
Memperbaiki dan menambah sarana da
prasarana yang dibuthkan untuk meningkatkan SDM melalui pendidikan formal dan
informal.
-
Bekerja sama dengan petugas penyuluh
lapangan untuk meningkatkan hasil pertanian.
-
Meningkatkan usaha pertanian.
-
Meningkatkan dan mengelola pendapatan
asli desa.
-
Mewujudkan pemerintahan yang baik dan
bersih melalui pelaksanaan Otonomi Daerah.
Sejarah
pemerintahan desa
|
No.
|
Periode
|
nama
kepala desa
|
Keterangan
|
|
1.
|
2007-2008
|
Haiyun
Baruadi
|
|
|
2.
|
2008-2015
|
Tamrin
P sugantina
|
|
Pembangunan
Desa
|
No.
|
Tahun
|
Kegiatan
Pembangunan
|
Keterangan
|
|
1.
|
1974
|
Pembangunan
Mushallah (Alhidayah)
|
Swadaya
|
|
2.
|
1974
|
Pembangunan
gereja Kanaan
|
Swadaya
|
|
3.
|
1979
|
Pembangunan SD
Anggasan
|
Dinas
Pendidikan
|
|
4.
|
2004
|
Pembangunan
masjid Al Hidayah
|
Swadaya
|
|
5.
|
2006
|
Pembangunan
Balai Desa
|
Swadaya
|
|
6.
|
2007
|
Pembangunan
air bersih
|
PNPM-MP
|
|
7.
|
2008
|
Pembangunan
jalan Desa
|
PNPM-MP
|
|
8.
|
2008
|
Pembangunan
Poskesdes
|
APBD
|
|
9.
|
2009
|
Pembangunan
Kantor Desa
|
APBD
|
|
10.
|
2009
|
Pembangunan
Jalan Desa
|
PNPM-MP
|
|
11.
|
2010
|
Pembangunan
PAUD
|
PNPM-MP
|
Prasarana
dan Sarana Desa
|
No.
|
Jenis Sarana
dan Prasarana Desa
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1.
|
Kantor desa
|
1
|
|
|
2.
|
Gedung SLTA
|
-
|
|
|
3.
|
Gedung SLTP
|
1
|
|
|
4.
|
Gedung SD
|
2
|
|
|
5.
|
Gedung MI
|
-
|
|
|
6.
|
Gedung PAUD
|
1
|
|
|
7.
|
Masjid
|
1
|
Perlu
perbaikan
|
|
8
|
Mushollah
|
1
|
Perlu perbaikan
|
|
9
|
Gereja
|
2
|
Perlu
perbaikan
|
|
10
|
Pasar desa
|
1
|
Perlu
perbaikan
|
|
11
|
Poskesdes
|
1
|
|
|
12
|
Kantor PKK
|
1
|
Baru pondasi
|
|
13
|
Poskamling
|
2
|
|
|
14
|
Jembatan
|
1
|
Perlu
perbaikan
|
|
15
|
Gedung TPQ
|
-
|
|
|
16
|
Lapangan sepak
bola
|
1
|
Perlu
perbaikan
|
|
17
|
Gedung BPD
|
1
|
Belum jadi
|
Luas
wilayah menurut pebnggunaan
|
Luas pemukiman
|
25 Ha/m2
|
|
Luas
persawahan
|
-
|
|
Luas
perkebunan
|
3000 ha/m2
|
|
Luas kuburan
|
1000 ha
|
|
Luas
pekarangan
|
2500
|
|
Luas taman
|
|
|
Perkantoran
|
500 ha
|
|
Luas prasarana
umum
|
1 ha
|
Tnah
kering
|
Tegal ladang
|
267 ha
|
|
Pemukiman
|
149 ha
|
|
Pekarangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total luas
|
418 ha
|
Tanah
perkebunan
|
Perkebunan
rakyat
|
3390 ha
|
|
Perkebunan
negara
|
-
|
|
Perkebunan
swasta
|
-
|
|
Perkebunan
pwrorangan
|
3390 ha
|
|
|
|
|
Total luas
|
6780 ha
|
Tamnah
hutan
|
Hutan lindung
|
65 ha
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Etnis
|
Etnis
|
laKILAKI
|
Perempuan
|
|
Dondo
|
90
|
89
|
|
Tolitoli
|
425
|
599
|
|
Bugis
|
53
|
74
|
|
Mandar
|
7
|
21
|
|
Buol
|
15
|
9
|
Langganan:
Postingan (Atom)



