Senin, 14 November 2011

Conversation with Minink Kihae

BETAPA MISKINNYA KITA

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak
anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada
anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari
di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin. Pada perjalanan pulang, sang
Ayah bertanya kepada anaknya. "Bagaimana perjalanan kali ini?"
"Wah, sangat
luar biasa Ayah."
"Kau... lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin," kata
ayahnya.
"Oh iya," kata anaknya
"Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?"
tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab. "Saya saksikan bahwa: Kita hanya
punya satu anjing, mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya
sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki
bintang-bintang pada malam hari. Kita memiliki pagar sampai ke halaman depan,
dan mereka memiliki cakrawala secara utuh. Kita memiliki sebidang tanah untuk
tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita. Kita
punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.
Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri. Kita mempunyai
tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat
untuk saling melindungi."

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat
berbicara.
Kemudian sang anak menambahkan "Terimakasih Ayah, telah menunjukkan
kepada saya betapa miskinnya
kita."
.........................................................................................
Mutiara
Kalbu Sebening Embun Pagi, p.172, 1001 kisah sumber inspirasi, edisi bahasa
Indonesia. Hafara

Conversation with Minink Kihae

BUTA

Ada seorang anak laki-aki tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan
dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang
bertuliskan: “Saya buta, tolong saya”. Tak berapa lama, nampak hanya ada
beberapa keping uang di dalam topi itu. Kemudian datanglah seorang pria
berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari
sakunya dan menjatuhkannya ke... dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan,
membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali
sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang baru saja ia
tuliskan.

Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang
memberi uang kepada anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah
kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi.
Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, “Apakah Bapak yang telah
mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?”

Pria itu
berkata, “Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang
kamu telah tulis dengan cara yang berbeda”. Apa yang ia telah tulis adalah:
“Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya”. Bukankah
tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja artinya?

Benar.
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan
yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang
kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa
mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua
lebih efektif?

Moral dari cerita ini: Bersyukurlah untuk segala yang kau
miliki. Jadilah kreatif. Jadilah inovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang
berbeda dan positif. Keluar dari “kotak” dan cobalah untuk melihat dari sudut
pandang yang tidak biasa.
By. Rahmini