Jumat, 06 April 2012

Demo PT CPM, Aktivis Mengaku Diintimidasi




Masyarakat Tolitoli Nyatakan Dukung PT CPM

PALU – Sejumlah Aktivis dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD) mengaku mendapat intimidasi setelah melakukan aksi unjuk rasa. Hal ini diungkapkan saat menggelar Konferensi pers dengan sejumlah wartawan, di sekretariat Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng, Rabu (4/4) kemarin.
Salah seorang aktivis IPPMD, Mispa, yang ikut melakukan unjuk rasa ke kantor PT Citra Palu Mineral (CPM) di Palu pada 21 Maret lalu, mengaku mendapat intimidasi berupa larangan untuk kembali melakukan aksi unjuk rasa ke kantor CPM.
“saya saat itu menjadi korlap saat aksi itu. Makanya orang yang mengaku dari CPM itu menelepon dan melarang saya untuk berdemo kembali,” sebut Mispa, yang juga mahasiswa Mipa Untad ini.
Tidak hanya itu, pihak keluarganya di Dondo, Kabupaten Tolitoli, juga diberikan informasi yang salah tentang aksi demonstrasi di kantor CPM, oleh orang yang diduga suruhan pihak CPM. “ katanya, aksi saya berunjuk rasa di Palu, sudah keluar jalur. Padahal, kami ingin menyelamatkan lahan rakyat disana yang ingin dijadikan lokasi tambang CPM,” ungkap nya.
Manager Riset dan Kampanye Jatam Sulteng, Andika, yang turut hadir dalam konferensi pers kemarin, mengaku menyayangkan tindakan intimidasi, yang dinilai sebagai reaksi atas kritikan yang dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat termasuk mahasiswa, menentang rencana operasi tambang di Dondo, Tolitoli. ”ini merupakan tindakan yang tidak demokratis, dan menunjukkan ketidakprofesionalan CPM menghadapi kritikan dari penduduk setempat ujar Andika.
Sementara itu, Direktur ED Walhi Sulteng, Ahmad Pelor, menyatakan bahwa rencana pihak CPM melakukan operasi di Blok IV, Dondo seluas 28.142 Hektar, dapat merugikan masyarakat sekitar. Karena didalam lahan tersebut, sebagian merupakan pemukiman suku lauje dan juga terdapat perkebunan masyarakat.
“untuk itu, kami juga meminta kepada Gubernur untuk mengeluarkan sikap politik terhadap kontrak PT CPM sebagaimana sikap politiknya terhadap PT Inco (Vale Indonesia) yang dianggap merugikan,” tandas nya.
Sementara di Tolitoli kemarin, juga digelar konferensi pers terkait masalah tersebut. Di Tolitoli sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa kepala Desa di Kecamatan Dondo khususnya Desa Anggasan, Malala dan Ogowele, mempersoalkan keterlibatan warganya dikait-kaitkan dalam aksi penolakan kehadiran  investasi  tambang PT Citra Palu Mineral (CPM) di desa mereka oleh LSM Jaringan Tambang (Jatam) pada 21 Maret Lalu di Palu.
Kepala desa Anggasan, Tamrin P Sugantina kepada media ini Selasa (4/4) kemarin mengungkapkan, selaku orang nomor satu di desanya, ia tidak terima atas sikap LSM yang melakukan aksi penolakan investasi tambang dengan mengatasnamakan masyarakatnya.
“ saya kira sah-sah saja LSM melakukan aksi penolakan, itu hak mereka, sepanjang tidak membawa-bawa nama masyarakat Desa Anggasan. Yang kami persoalkan, mereka melakukan aksi membawa nama masyarakat desa, sementara saat aksi itu tidak ada warga Anggasan yang ikut aksi,”ungkap Tamrin saat ditemui bersama dengan puluhan warganya.
Ia menyatakan, aksi yang dilakukan LSM tersebut dianggap telah mengusik, karena bertolak belakang dengan keinginan seluruh warganya, dimana mereka sangat membutuhkan siapapun investor yang serius ber investasi di desanya.
“justru kami menginginkan investor cepat-cepat Action melakukan Aktifitas pertambangan nya, agar masyarakat setempat sudah bisa merasakan manfaatnya, terutama perekrutan tenaga kerja. Kebetulan CPM yang kami nilai serius melakukan investasi tersebut maka kami mengharapkan CPM bisa menjelaskan atau mensosialisasikan sudah sejauh mana proses atau tahapan atas pembukaan tambang tersebut, “kata tamrin.
Pada kesempatan yang sama, kepala Desa Malala Yusran SE juga mengatakan mendukung keberadaan CPM maupun investasi lainnya, untuk melakukan aktivitas pertambangan di wilayah nya sepanjang sesuai prosedur dan memberikan manfaat bagi pemerintah khususnya masyarakat.
“sejauh ini, kami belum menemukan adanya kegiatan menyimpang yang dilakukan oleh CPM, sehingga tidak ada alasan untuk menolak perusahaan tersebut untuk berinvestasi, apalagi warga desa sangat mengharapkan aktifitas CPM bisa segera ditingkatkan lebih dari sekedar eksplorasi, agar sudah bisa dirasakan manfaatnya,” harap Yusran yang diamini oleh masyarakat yang hadir saat itu.
Sementara Theis, salah seorang tokoh adat Desa Ogowele Kecamatan Dondo menambahkan aksi yang dilakukan oleh LSM yang mengaitkan warga deanya dinilai cukup propokatif dan sengaja menimbulkan kesan seakan-akan penolakan tersebut muncul dari keinginan warga untuk menolak. Sementara mereka tidak menghendaki penolakantersebut.
“rencanan aksi itu sama sekali kami tidak ketahui. Makanya kami kaget mendengar berita masyarakat Dondo menolak CPM. Makanya, melalui kedatangan teman-teman wartawan, kami berharap masalah ini dijelaskan ke publik bahwa kami sama sekali mengharapkan CPM maupun investor lain bisa segaara action didesa kami. Keliru jika kami dikatakan menolak, “tutur Theis.
Senada dengan Theis, Madras ketua BPD Malala menambahkan, pada dasarnya pihaknya sangat mendukung kehadiran CPM untuk melakukan investasi, sepanjang proses investasinya sehat dan serius, makanya pihaknya mengharapkan pihak PT. CPM segera melakukan sosialisasi sehingga ada penjelasan kepada masyarakat terkait, sudah sejauh mana progress pelaksanaan investasi, kemudian mengklarifikasi tudingan dampak negatif semisal dampak lingkungan yang dituding  oleh LSM, kemudian bagaimana bentuk kerjasama dengan Pemkab maupun masyarakat terkait ganti rugi lahan.
“Semua itu, butuh penjelasan kepada masyarakat, sehingga kami sangat berharap kepada PT. CPM untuk dapat melakukan sosialisasi, sehingga masyarakat bisa paham dan mendapatkan kejelasan serta tidak mudah terprovokasi, “ tambah Madras (agg/yus). 
Sumber : Radar Sulteng (4/4 2012).