Dondo
Studi Club (DSC) adalah sebuah Forum diskusi ilmiah,
yang di bentuk oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), guna
membahas atau mendiskusikan sesuatu yang dianggap perlu di tataran internal IPPMD.
Kali ini forum DSC mendiskusikan tentang “Dinamika Mahasiswa”. Yang dilaksanakan
tanggal 20 Oktober 2012 di Kantor Jatam Sulteng.
Andika, aktivis Jatam Sulteng, sebagai pemateri
dalam forum DSC ini. Selain dari diskusi tentang dinamika mahasiswa, Andika juga
membawakan tentang sejarah penjajahan di dunia, dan lain-lain.
Secara umum, mahasiswa adalah sebagai kaum
intelektual dan kaum terpelajar, juga sebagai agen perubahan dan agen kontrol
sosial. Mahasiswa berbeda dengan siswa (SMP atau SMA). Mahasiswa mempunyai satu
kapasitas tersendiri yang berbakti pada masyarakat sesuai dengan tri dharma
perguruan tinggi.
Namun, dinamika Mahasiswa di zaman globalisasi ini,
hampir sudah tidak bisa diharapkan lagi. Apalagi diterapkannya Undang-undang
perguruan tinggi, sebagai salah satu bentuk privatisasi sektor pendidikan. Ini yang
kemudian menjadi sebuah anekdot dalam dinamika di zaman sekarang, yang lebih
cenderung apatis terhadap keadaan sosial masyarakat. Kepasrahan mahasiswa
terhadap setiap permasalahan-permasalahan sosial masyarakat semakin menjamur. Karena
ketidakmampuan mahasiswa dalam membentuk karakter dirinya, dan menuangkan
segala pemikiran, bahwa “bangkuh kuliah-lah” nomor satu, daripada permasalahan
rakyat.
Dunia mahasiswa, menjadi hampir bisa dikatakan
sebagai kelompok “hedonisme” yang terkungkung dalam romantisme dunia kampus. Itulah
dinamika mahasiswa sekarang, yang sangat pelik menengok kebelakang atau diluar
kampus.
Diberlakukannya NKK_BKK dibuat, yang sebelumnya di
adakan senat kampus. Jadi, mahasiswa di kekang di dalam kampus da tidak bisa
berpolitik dengan rakyat. slogannya adalah, politik no pembangunan yes.
Kampus sekarang adalah pabrik intelektual.
Masyarakat dan Dinamikanya
Mahasiswa itu bukan sesuatu penamaan yang tumbuh dan
jatuh dari langit. Bahwa masyarakat Indonesia dalam sejarah nya bukan semenjak
ada. Yang disebut sebagai dialektik. Perkembangan sejarah manusia disebut
sebagai dialektika. Bumi ini terbangun dari proses timbunan dan fase yang cukup
panjang. Indonesia alamnya sungguh ganas, karena jumlahnya cukup banyak dari jumlah
manusia. Masyarakat kita ini, adalah masyarakat bercampur baur, dari proses
migrasi yang cukup panjang. Yang mempunyai suku, etnis, agama, dan lain-lain. Ada
yang berasumsi bahwa kita adalah masyarakat china tua. Ada juga yang mengatakan
bahwa, manusia terbentuk pecahan lempengan.
Tapi yang perlu diingat bahwa, masyarakat dulu yang
hidup mempunyai fase yang cukup berat terhadap alam. Menghadapi singa, harimau,
gajah, babi yang buas, dan binatang-binatang lain. Sehingga, mereka sering
berpindah-pindah.
Imprealisme pertama seperti romawi yang
menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia, sehingga terjadi proses pembauran
penduduk. Soal ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan berdiri sendiri, atau bebas
nilai, misalnya orang tiba-tiba mengenal huruf latin. Proses itu mengalami
proses impor-ekspor, melalui perdagangan yang masuk di Indonesia terutama di
wilayah-wilayah pesisir. Bukan tidak ada sekolah dimasa itu, tapi pengetahuan
yang kita miliki itu tidak sejalan dengan hegemoni dengan budaya yang kita
miliki saat itu.
Eropa pada umumnya, bersatu dalam kerjaaan romawi. Sementara
pada Persia. Iran, Irak, dan lain-lain, masuk dalam wilayah Persia. Ketika proses
itu terjadi, di Asia Tenggara muncul kekuatan dinasti Yin. Yang melalui proses
hegemoni atau dengan perang. Dunia pada saat itu, bukan di tentukan oleh
kekuatan pena, namun, di tentukan oleh kekuatan finansial dan pedang. Tehnologi
pada saat itu, semua bergantung pada situasi alam. Jadi jika terjadi kegagalan,
maka perlu adanya ekspansi ke negara tetangga untuk mengambil tanaman-tanaman
lain.
Oral law (hukum tidak tertulis) di gunakan di
inggris pada saat itu. Konsepsi negara-negara jajahan sangat berlaku saat itu,
terutama ketika sebuah negara menjajah sebuah negara. Sehingga matilah ilmu
sangsakerta.
Di Sulawesi tengah, di Poso, Kulawi, Palu, dan
wilayah-wilayah lain, tidak memiliki bangunan tersendiri. Mereka saling
berperang karena belum mengetahui proses alam. Kerajaan Luwu mengekspansi
kerajaan-kerajaan kecil sehingga disatukan menjadi kerajaan luwu. Namun, tetap
memakai kewenangan berbasis sukuisme. Disaat ekspansi terjadi, muncullah ilmu
pengetahuan, yang dinamakan lantara. Di Sulteng perkembangan masyarakat, bukan
jumlah masyarakat yang cukup banyak, namun ada proses transmigran. Pulau jawa dan sumatera terbagi menjadi
beberapa spektrum masyarakat.
Belanda masuk ke dataran tinggi Sulawesi Tengah melalui Miranda dan luis yang mengajarkan
agama kristen. Jauh sebelum indonesia
merdeka, masyarakat sudah mengenal
tulisan melalui sekolah Belanda.
Belanda itu tidak menghancurkan kerajaan, yaitu
untuk memudahkan proses pemgambilan upeti, bahkan Belanda membuat kerajaan dan
membiarkan kerajaan-2 tetap independent. Kerajaan di buat sebagai perantara,
untuk memungut upeti.
Di tolitoli, Lanoni, hidup dalam keadaan komunal,
tidak ada kerajaan besar disana. Karena di taklukkan oleh kerajaan bantalan. Yang
di manfaatkan oleh Belanda untuk menarik upeti masyarakat di tolitoli. Tapi kebijakan seperti itu, mengalami proses
berubah, karena dinamika politik di Norwegia, yang berpengaruh pada fase
pendidikan dan kebijakan di Indonesia. Hukum
yang harus dipakai di Indonesia adalah hukum adat, itu menurut van vollenhoven.
Hukum di tanah air dibagi tiga. Kelompok pribumi:
arab, tionghoa (hukum adat) karena jika memakai hukum positivisme maka tidak
ada keadilan. Kelompok eropa; ledden Universitas Adat di Belanda. Saingannya utre.
Budi utomo lahir sebagai sebuah organisasi untuk
mengkritisi pemerintah, agar anak petani atau pribumi juga harus di sekolahkan.
Juga sarekat dagang islam, bekerja sama dengan ISDV
untuk pendidikan-pendidikan, sehingga tersebur dibeberapa wilayah di
Hindia-Belanda pada saat itu. Disaat yang sama pemuda di Indonesia banyak yang
berbakat dan dikirm ke Belanda untuk bersekolah. Syahril, tan malaka dikirim ke
Belanda, tapi mereka tidak belajar seperti yang di perintahkan oleh pemerintah Belanda,
namun mereka hanya bergabung pada aktivits-aktivis di Belanda. Tan malaka
pertama kali mendeklarasikan Niir Indonesia (RI, jauh sebelum orang berfikir tentang
itu tan malaka sudah menulis nya. Tan malaka
pulang dari Belanda dan bergabung dengan partai komunis Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar