Minggu, 21 Oktober 2012

Masyarakat Anggasan Tolak CPM

Sumber : Mercusuar
Edisi      : 7 Oktober 2011

Dok. IPPMD
PALU, MERCUSUAR-Masyarakat Desa Anggasan Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, risau dengan masuknya PT Citra Palu Mineral (CPM) yang akan mengeksplorasi tambang emas disana. 

Masyarakat risau dengan dampak kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi, jika CPM telah melakukan eksploitasi. Demikian pers release yang diterima redaksi dari Gerakan Masyarakat Anggasan, tadi malam (7/10). 

“Sampai sekarang kami masyarakat Desa Anggasan tidak pernah diperlihatkan dokumen penelitian, Izin dan Amdal serta peta lokasi perusahaan yang akan masuk di Desa kami. Olehnya itu kami masyarakat Desa Anggasan tidak ingin pemerintah dan perusahaan CPM merusak lingkungan kami dan terus membohongi masyarakat dengan informasi palsu,” kata Moh Rifai M Hadi, Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo. 

Dikatakan Rifai, masyarakat berhak dan wajib tahu proses penyusunan Amdal. Pemprakarsa kegiatan lanjutnya, wajib mengumumkan terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun Amdal dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan. 

“Masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Tapi sayangnya ketentuan diatas tidak pernah dilakukan sama sekali baik pihak manajemen CPM maupun dari pemerintah sendiri. Kami hanya tidak mau lingkungan kami dirusak, kami tidak mau sosial budaya kami berubah, ekonomi kami menurun drastis, seperti halnya daerah-daerah lain yang pernah atau yang sedang dalam penguasaan perusahaan tambang, baik swasta maupun negara,” paparnya. TMU/* 

Dondo Study Club: Dinamika Mahasiswa



Dondo Studi Club (DSC) adalah sebuah Forum diskusi ilmiah, yang di bentuk oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), guna membahas atau mendiskusikan sesuatu yang dianggap perlu di tataran internal IPPMD. Kali ini forum DSC mendiskusikan tentang “Dinamika Mahasiswa”. Yang dilaksanakan tanggal 20 Oktober 2012 di Kantor Jatam Sulteng.

Andika, aktivis Jatam Sulteng, sebagai pemateri dalam forum DSC ini. Selain dari diskusi tentang dinamika mahasiswa, Andika juga membawakan tentang sejarah penjajahan di dunia, dan lain-lain.  

Secara umum, mahasiswa adalah sebagai kaum intelektual dan kaum terpelajar, juga sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial. Mahasiswa berbeda dengan siswa (SMP atau SMA). Mahasiswa mempunyai satu kapasitas tersendiri yang berbakti pada masyarakat sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi.

Namun, dinamika Mahasiswa di zaman globalisasi ini, hampir sudah tidak bisa diharapkan lagi. Apalagi diterapkannya Undang-undang perguruan tinggi, sebagai salah satu bentuk privatisasi sektor pendidikan. Ini yang kemudian menjadi sebuah anekdot dalam dinamika di zaman sekarang, yang lebih cenderung apatis terhadap keadaan sosial masyarakat. Kepasrahan mahasiswa terhadap setiap permasalahan-permasalahan sosial masyarakat semakin menjamur. Karena ketidakmampuan mahasiswa dalam membentuk karakter dirinya, dan menuangkan segala pemikiran, bahwa “bangkuh kuliah-lah” nomor satu, daripada permasalahan rakyat.

Dunia mahasiswa, menjadi hampir bisa dikatakan sebagai kelompok “hedonisme” yang terkungkung dalam romantisme dunia kampus. Itulah dinamika mahasiswa sekarang, yang sangat pelik menengok kebelakang atau diluar kampus.

Diberlakukannya NKK_BKK dibuat, yang sebelumnya di adakan senat kampus. Jadi, mahasiswa di kekang di dalam kampus da tidak bisa berpolitik dengan rakyat. slogannya adalah, politik no pembangunan yes.
Kampus sekarang adalah pabrik intelektual.

Masyarakat dan Dinamikanya

Mahasiswa itu bukan sesuatu penamaan yang tumbuh dan jatuh dari langit. Bahwa masyarakat Indonesia dalam sejarah nya bukan semenjak ada. Yang disebut sebagai dialektik. Perkembangan sejarah manusia disebut sebagai dialektika. Bumi ini terbangun dari proses timbunan dan fase yang cukup panjang. Indonesia alamnya sungguh ganas, karena jumlahnya cukup banyak dari jumlah manusia. Masyarakat kita ini, adalah masyarakat bercampur baur, dari proses migrasi yang cukup panjang. Yang mempunyai suku, etnis, agama, dan lain-lain. Ada yang berasumsi bahwa kita adalah masyarakat china tua. Ada juga yang mengatakan bahwa, manusia terbentuk pecahan lempengan.

Tapi yang perlu diingat bahwa, masyarakat dulu yang hidup mempunyai fase yang cukup berat terhadap alam. Menghadapi singa, harimau, gajah, babi yang buas, dan binatang-binatang lain. Sehingga, mereka sering berpindah-pindah.

Imprealisme pertama seperti romawi yang menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia, sehingga terjadi proses pembauran penduduk. Soal ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan berdiri sendiri, atau bebas nilai, misalnya orang tiba-tiba mengenal huruf latin. Proses itu mengalami proses impor-ekspor, melalui perdagangan yang masuk di Indonesia terutama di wilayah-wilayah pesisir. Bukan tidak ada sekolah dimasa itu, tapi pengetahuan yang kita miliki itu tidak sejalan dengan hegemoni dengan budaya yang kita miliki saat itu.

Eropa pada umumnya, bersatu dalam kerjaaan romawi. Sementara pada Persia. Iran, Irak, dan lain-lain, masuk dalam wilayah Persia. Ketika proses itu terjadi, di Asia Tenggara muncul kekuatan dinasti Yin. Yang melalui proses hegemoni atau dengan perang. Dunia pada saat itu, bukan di tentukan oleh kekuatan pena, namun, di tentukan oleh kekuatan finansial dan pedang. Tehnologi pada saat itu, semua bergantung pada situasi alam. Jadi jika terjadi kegagalan, maka perlu adanya ekspansi ke negara tetangga untuk mengambil tanaman-tanaman lain.

Oral law (hukum tidak tertulis) di gunakan di inggris pada saat itu. Konsepsi negara-negara jajahan sangat berlaku saat itu, terutama ketika sebuah negara menjajah sebuah negara. Sehingga matilah ilmu sangsakerta.
Di Sulawesi tengah, di Poso, Kulawi, Palu, dan wilayah-wilayah lain, tidak memiliki bangunan tersendiri. Mereka saling berperang karena belum mengetahui proses alam. Kerajaan Luwu mengekspansi kerajaan-kerajaan kecil sehingga disatukan menjadi kerajaan luwu. Namun, tetap memakai kewenangan berbasis sukuisme. Disaat ekspansi terjadi, muncullah ilmu pengetahuan, yang dinamakan lantara. Di Sulteng perkembangan masyarakat, bukan jumlah masyarakat yang cukup banyak, namun ada proses transmigran.  Pulau jawa dan sumatera terbagi menjadi beberapa spektrum masyarakat.

Belanda masuk ke dataran tinggi Sulawesi Tengah  melalui Miranda dan luis yang mengajarkan agama kristen.  Jauh sebelum indonesia merdeka, masyarakat sudah mengenal  tulisan melalui sekolah Belanda.

Belanda itu tidak menghancurkan kerajaan, yaitu untuk memudahkan proses pemgambilan upeti, bahkan Belanda membuat kerajaan dan membiarkan kerajaan-2 tetap independent. Kerajaan di buat sebagai perantara, untuk memungut upeti.

Di tolitoli, Lanoni, hidup dalam keadaan komunal, tidak ada kerajaan besar disana. Karena di taklukkan oleh kerajaan bantalan. Yang di manfaatkan oleh Belanda untuk menarik upeti masyarakat di tolitoli.  Tapi kebijakan seperti itu, mengalami proses berubah, karena dinamika politik di Norwegia, yang berpengaruh pada fase pendidikan  dan kebijakan di Indonesia. Hukum yang harus dipakai di Indonesia adalah hukum adat, itu menurut van vollenhoven.

Hukum di tanah air dibagi tiga. Kelompok pribumi: arab, tionghoa (hukum adat) karena jika memakai hukum positivisme maka tidak ada keadilan. Kelompok eropa; ledden Universitas Adat di Belanda. Saingannya utre.

Budi utomo lahir sebagai sebuah organisasi untuk mengkritisi pemerintah, agar anak petani atau pribumi juga harus di sekolahkan.

Juga sarekat dagang islam, bekerja sama dengan ISDV untuk pendidikan-pendidikan, sehingga tersebur dibeberapa wilayah di Hindia-Belanda pada saat itu. Disaat yang sama pemuda di Indonesia banyak yang berbakat dan dikirm ke Belanda untuk bersekolah. Syahril, tan malaka dikirim ke Belanda, tapi mereka tidak belajar seperti yang di perintahkan oleh pemerintah Belanda, namun mereka hanya bergabung pada aktivits-aktivis di Belanda. Tan malaka pertama kali mendeklarasikan Niir Indonesia (RI, jauh sebelum orang berfikir tentang itu  tan malaka sudah menulis nya. Tan malaka pulang dari Belanda dan bergabung dengan partai komunis Indonesia.