Sabtu, 30 Juni 2012

Refresh Otak di Taipa Beach

Oleh: Bidang Info Dan Pers

Kaget, adalah mimik wajah sang penjaga pintu gerbang di salah satu objek wisata Kota Palu, “Silae Beach,” ketika melihat segerombolan orang berbaju merah, memakai motor, berlahan-lahan merapat dan tidak sabar lagi ingin masuk kelokasi objek wisata Silae Beach, sekitar sepuluh kilo meter dari kota Palu. Sabtu, 30 Juni 2012.

Kami memang sengaja mengunjungi objek wisata itu, sekedar merefresh otak yang sudah mulai merebah kemana-mana. Angin sepoi-sepoi pun sudah mulai menyentuh kulit. Menebarkan suasana alamnya yang begitu sejuk disekitar jalan sebelum pintu gerbang masuk. Karcis tanda masuk telah diserahkan kepada kami, yang harus ditukar dengan money lima ribu rupiah, sebagai bukti tanda masuk.

Pohon-pohon yang rindang, ada yang sudah tumbuh besar dan, ada pula yang masih berumur “jagung,” terlihat disisi kiri dan kanan kami. Ada beberapa fasilitas yang terdapat dilokasi sekitar 30 hektar itu; tempat permandian, alat band, villa, gazebo, kantin dan, lain-lain.

Utusan pun telah berangkat, untuk bertemu kepada penjaga gazebo. Kami hendak menyewa satu gazebo itu untuk melepas kepenatan otak. Gazebo itu, diatas air yang keruh, tepat pada posisi ditengah genangan air. Ada empat buah tempat duduk, dengan ukuran sekitar 3 x 3 meter di dalam gazebo itu. Dengan dilapisi gomi berwarna agak kecoklatan, yang dihiasi oleh hasil sobekan tangan-tangan nakal. Jika kita menengok kearah barat, maka lautan lepas yang biru, cukup bersih, jelas terlihat mata telanjang. Di bibir pantai itu, ada beberapa pondok-pondok kecil nan imut berjejer rapi, seakan memanggil kami untuk mendudukinya. Kicauan burung gelatik, dengan warna-warni nya yang indah nan menawan dan, suaranya yang merdu, memekik telinga, menjadi “penghibur” khas siang itu. Burung-burung gelatik itu bermain bersama kawan-kawannya yang lain. Di dahan pohon yang rindang, seakan mereka betah di wilayah itu. Burung itu juga terlihat mencabik-cabik dedaunan yang dibawa dari tengah lapang yang luas. Mengandung cukup makna, bahwa sisa-sisa dedaunan itu dibagikan kepada kawan-kawan nya yang lain, di arah utara gazebo itu.

Jika kita melihat kearah timur, maka pandangan mata tertuju pada sebuah gumpalan bukit yang, ditumbuhi oleh rumput Jepang, menjalar disekelilingnya. Gumpalan bukit itu, juga di kelilingi oleh air yang keruh. Juga bukit itu diapit oleh dua buah jempatan penyeberang. Untuk digunakan penghuni lokasi itu.

Semakin banyak terlihat aneka hiburan terlihat, maka segerombolan baju merah tadi semakin berminat. Tapi apalah daya, “ekonomi lemah” telah menjadi penghambat untuk menikmati nya.

“Saya ingin naik bebek-bebek itu, siapa yang mau traktir saya?” ungkap Linda dengan, menunjukkan muka kasihan.

“Kau naik dibelakangnya Dani saja, karena itu tidak di bayar,” singgung Muli dengan gurau nya.
Begitupun dengan Adri yang, ingin bernyanyi setelah mendengar suara electon dari arah selatan.

“Kiyat, temani saya menyanyi, kita harus menunjukkan suara indah kita kepada mereka yang, ada di lokasi ini,” singgung Adri.

“Marilah…!!! kayaknya saya juga ingin bernyanyi, saya sudah lama ingin bernyanyi namun, tidak pernah tercapai di panggung-panggung seperti itu,” balas Kiyat, sambil tersenyum, seakan berharap Adri serius mengajak nya.

Semua tercapai; Linda, Adri dan, Kiyat senang-gembira karena keinginan mereka terwujud. Begitupun dengan Dani yang sedang mengambil gambarnya sendiri dengan, memamerkan “dua jari” tangannya. Dan Mia terpancing akan hal itu, untuk bergabung bersama Dani yang sedang menggandakan seluruh tubuhnya di Handphone.

“Foto dulu saya Dani tapi, harus memakai Handphone nya Rudi, karena Handphone nya agak bagus,” gombal Mia.

Antara Dani dan Mia juga, senang akan aktifitasnya itu. Sementara “si baju” merah yang lain, sedang asyik berdiskusi dengan macam-macam tema.

Beberapa jam kemudian, kami berjalan mengelilingi Taipa Beach yang, hampir dipenuhi dengan rumah-rumah panggung. Rumah panggung itu dikelilingi oleh pohon-pohon berdaun hijau. Dalam perjalanan itu, kami bertemu dengan tiga orang ibu yang, umurnya sekitar 60-an tahun. Ibu itu bekerja sebagai “tukang sapu” di Taipa Beach.

Linda yang kami gelar “muka kamera” sering mengeluh ketika tidak ada yang, bersedia  mengambil profil tubuhnya melalui Handphone.  Hal itulah menjadi pemandangan indah bagi ketiga orang ibu itu. Pandangannya seakan tidak bisa berpaling dari Linda yang, sesekali mengeluarkan suara besar.

Namun dibalik kemewahan, kemegahan, dan sejuknya di Taipa Beach itu, satu hal yang harus diingat adalah, tempat itu milik swasta yang satu orang miskin pun sangat tidak berhak masuk dan menikmati segala sarana dan prasaran yang ada di dalam Taipa Beach.
Setelah hampir seharian kami ditempat itu, tiba waktunya untuk kembali ketempat parkir seraya, membunyikan motor, memasang helm dan pulang kehabitat masing-masing.

…..Sebuah Catatan Dari Arah Utara Kota Palu……

Kongres Ke-III IPPMD, Berjalan Sukses


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Suasan Penghitungan Suara

Menjalin Kekerabatan, dan meningkatkan kualitas serta membentuk anggota yang berdedikasi tinggi terhadap lembaga, adalah tema yang diangkat dalam Kongres ke-III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo. Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Tanggal 22 – 24 Juni 2012 di Gedung KNPI Palu.

Berbicara mengenai tema diatas, bahwa yang paling utama dan pertama, agar organisasi berjalan dengan baik adalah menjalin kekerabatan sesama anggota. Berangkat dari situasi saat ini, khususnya di Internal IPPMD itu sendiri, bahwa telah terjadi kelemahan kekerabatan. Oleh karena itu, perlu adanya menjalin kembali, mempererat dan, memperkokoh persaudaraan sesama anggota dan masyarakat Dondo itu sendiri.
Lalu mengapa hal itu terjadi? Dalam berbagai “peta politik” yang dituangkan masing-masing anggota, bahwa ada faktor individualistik yang menggerogoti jiwa anggota. Juga ada ketidakpedulian terhadap sesama dan organisasi, apalagi terhadap daerah Dondo. Hal itulah yang menjadi pokok persoalan yang, selama ini sulit untuk memecahkan persoalan dengan berbagai fenomenanya.

Kongres ke - III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada dasarnya adalah membahas kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sesuai dengan arus organisasi selama ini,  serta memilih dan menetapkan kepengurusan baru.

Serah Terima Jabatan
Banyaknya fenomena yang terjadi di internal IPPMD, menjadi suatu perdebatan yang alot. Lebih luas lagi, bahwa merapikan kembali, menyusun kembali dan, mempererat kembali terhadap situasi-situasi selama ini yang dianggap krusial. Hal inilah dengan, waktu dua hari itu dibebaskan membahas fenomena-fenomena yang ada.

Dipenghujung Kongres itu, para peserta Kongres dengan antusias memilih masing-masing hati nuraninya, untuk menetapkan Badan Pengurus pada periode 2012-2013. Alkiyat J. Dariseh dan Mulyadi Ali S. Opulu menjadi kandidat terkuat pada pemilihan itu. Suasananya pun menjadi tegang, bahkan terjadi dua kali pemilihan. Karena pada pemilihan pertama terjadi keseimbangan suara. Sehingga, dilakukan pemilihan kedua dan, dimenangkan oleh Alkiyat J. Dariseh, yang hanya berbeda satu suara dengan Mulyadi Ali S. Opulu.
Hingga pukul 05.00 pagi kongres ke-III  itu dilaksanakan, para peserta kongres pun terlihat kelelahan, karena tidak tidur semalaman. Setelah itu Kongres ke-III ditutup secara resmi oleh ketua terpilih, Alkiyat J. Dariseh.


Masyarakat Dondo Dan Fenomenanya


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Masalah sosial yang terjadi di Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, telah banyak terjadi. Sehingga, proses dalam berinteraksi baik sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya tidak mampu diminimalisir dengan baik. Dari sektor kepemudaan pun sudah menjadi perselisihan, entah ada proses penyelesaiannya atau tidak. Namun, hal ini perlu di tanggapi dengan serius. Hingga kini fenomena yang terjadi di Kecamatan Dondo, diantaranya : Kemiskinan, Kejahatan, Disorganisasi keluarga, Masalah Generasi muda, Peperangan, Pelanggaran norma-norma dalam Masyarakat, Masalah Lingkungan.Sehingga, Kecamatan Dondo yang memiliki luas 624, 23 Ha dan, didiami oleh 21.828 jiwa penduduk itu, sewaktu-waktu akan menimbulkan Degradasi yang dahsyat nantinya.

Fenomena-fenomena sosial dalam masyarakat kita di atas, jika nuansa kastalistik tadi tidak diatasi secara sistemik dan segera, setidaknya ada 2 (dua) dampak paling berbahaya yang harus dituai oleh kita semua sebagai masyarakat  yang bertanggungjawab atas segala fenomena yang terjadi di dalamnya, yaitu, pertama “keterbelakangan abadi” bagi masyarakat mayoritas yang ditandai dengan rendahnya partisipasi dan kepedulian masyarakat atas fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya serta tidak mampu mengkritisi apapun kebijakan pemimpinnya.Kedua gejala disintegrasi yang semakin mengganas yang ditandai dengan menjamurnya gerakan-gerakan separatisme.

Menyikapi fenomena sosial yang terjadi di Dondo, hendaknya kita bersikap aktif dalam isyu fenomena tersebut.Maka hal ini perlu adanya pendiskusian yang lebih dalam, untuk mencarikan solusi “ampuh” dalam penyelesaian Fenomena sosial masyarakat Dondo.

Fenomena sosial masyarakat Dondo menjadi perdebatan serius di gedung KNPI, yang dilaksanakan oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada tanggal 22 Juni 2012. Turut hadir dalam diskusi itu adalah; Camat Dondo, Urip Halim S. Pd, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dapil Dondo, Rahmat T. Radjia dan, beberapa tokoh-tokoh masyarakat Dondo. Namun, satu hal yang menjadi perdebatan panjang saat itu, adalah mengenai perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi Sumber Daya Alam di kecamatan Dondo.

Perdebatan Mengenai Perusahaan Tambang

Menurut Urip Halim, “Jika masyarakat Dondo ingin meningkat taraf hidupnya harus membuka tangan lebar-lebar atas kedatangan investor asing itu. Saat ini, sumber daya alam di Dondo melimpah dan, hal itu harus dikelolah dengan mendatangkan perusahaan,” ungkapnya.

Tidak berbeda jauh dengan pendapat Urip Halim. Anggota Dewan asal Dondo juga mengatakan hal demikian, bahwa jika Dondo ingin maju kita harus membukakan “karpet merah” kepada mereka.

Pendapat itu menuai protes keras dari Mahasiswa Dondo. Bahwa pertambangan bukan jalan satu-satunya membangun daerah Dondo, bukan juga satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Dondo. Hal ini memang tidak masuk diakal, sebab dilihat dari berbagai daerah di Indonesia, bahwa daerah jajahan perusahaan tambang sama sekali tidak mendapatkan dampak positif. Paradigma berpikir harus dirubah, bukan karena melihat uang “merah” berlipat ganda lantas kita harus “menyambut salam” para investor asing itu.

Faktor-faktor lain juga harus dipikirkan lebih jauh, misalnya: kerusakan lingkungan, keadaan sosial masyarakat Dondo, dan lain-lain. Padahal pertanian dan perkebunan kakao di kecamatan Dondo berpotensi untuk meningkat, begitupun dengan objek wisata. Dari segi itu yang harus ditingkatkan, bukan menyambut baik para perusak lingkungan itu.

Menurut Ramadhani, salah satu Anggota dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), mengatakan bahwa, “Merkuri dan Sianida adalah bahan kimia yang beracun dan, pastinya akan digunakan untuk pemisahan logam oleh perusahaan. Kita tidak bisa menelan mentah-mentah atas kebijakan pemerintah yang melegalkan perusahaan tambang itu di Dondo. Karena sangat tidak berpihak pada masyarakat, juga tidak menguntungkan masyarakat Dondo.”

Masih menurut Dhani, “Kami juga sudah turun kejalan untuk menolak eksplorasi PT. Citra Palu Mineral (CPM). Kami menolak tentunya mempunyai alasan yang kuat, bahwa dalam wilayah konsesi CPM itu, terdapat pemukiman dan lahan perkebunan warga.” Lanjutnya, “CPM ini adalah milik asing, walaupun sebagian saham milik Aburizal Bakrie. Perusahaan Bakrie di Sidoarjo telah menenggelamkan sejumlah desa, dan perusahaan Bakrie tersebut lepas tangan atas bencana yang ditimbulkan perusahaannya. Apakah kita membebaskan perusahaan Bakrie merusak lingkungan Dondo?” tegasnya, dengan suara yang lantang.
Diskusi itu berlangsung hingga pukul 21.20 wita. Dengan menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan dibawa ke kecamatan Dondo, untuk ditindaklanjuti. Namun, dalam catatan kami bahwa, tetap konsisten dalam penolakan Perusahaan Tambang di Kecamatan Dondo. Dan hal ini adalah HARGA MATI.



Rabu, 11 April 2012

FPKR Sulteng Tolak Perusahaan Tambang di Dondo



Palu- Puluhan massa yang mengatasnamakan Front Penyelamat Kedaulatan Rakyat (FPKR) berunjuk rasa di depan pintu masuk kantor Gubernur Sulteng, kemarin siang (9/4). Massa yang membawa spanduk dan panflet bertuliskan tolak aktivitas pertambangan di Daerah Dondo Kabupaten Tolitoli menyatakan penolkana terhadap PT. Citra Palu Mineral (CPM) yang akan melakukan eksplorasi bijih emas di Sulteng.
Koordinator lapangan, Mulyadi A.S Opulu, dalam orasinya, mengatakan kehadiran PT. CPM yang akan melakukan praktik pertambangan yang melintas di beberapa daerah di Sulteng, seperti Kabupaten Tolitoli, Parimo, Kota Palu, Buol dan Donggala, secara otomatis dengan kuantitas luas pertambangan sudah pasti akan berpotensi pencemaran lingkungan dengan limbah yang dihasilkan sangat luas dan berimbas pada masyarakat, “Di Daerah Dondo PT. CPM juga akan melakukan kegiatan pertambangan dan ini sudah jelas tidak menguntungkan pihak masyarakat, hanya menguntungkan pihak perusahaan,” kata Mulyadi.
FPKR meminta kepada Gubernur Sulteng, agar tanah yang akan digunakan sebagai lahan pertambangan diserahkan kepada masyarakat. Kontribusi pertambangan dari pihak penguasa sudah jelas tidak memberikan kontribusi besar kepemerintah, apalagi masyarakat. Belum lagi, pencemaran lingkungan yang menjadi ancaman bagi masyarakat.
“Kami juga minta kepada Gubernur bertindak tegas menolak perusahaan yang akan mengolah pertambangan di Dondo, karena tidak berpihak kepada masyarakat,” ungkapnya.
Terpisah Humas PT CPM, Amran Amir yang dikonfirmasi via ponsel, kemarin, mengatakan unjuk rasa merupakan bagian dari pengawasan terhadap aktivitas pertambangan, juga termasuk pengawasan terhadap PT CPM. Namun, diharapkan kepada pengunjuk rasa, sebaiknya menyampaikan data yang benar. Misalnya soal penolakan PT. CPM yang akan melakukan eksplorasi atau penelitian, hal itu belum ada aktivitas pengolahan dan tidak ada pencemaran atau kerusakan lingkungan yang dilakukan.
Kemudian penolakan yang dimaksud ke CPM, apa kesalahan CPM sehingga ada pernyataan penolakan. Menurut Amran Amir, kalaupun nanti akan ada aktivitas eksploitasi, kemudian ada tanah masyarakat yang dipakai, tentu ada prosedur ganti rugi lahan, bukan semata-mata menyerobot tanah masyarakat.
“Untuk diketahui, bahwa CPM itu mengolah sumber mineral yang ada di Sulteng, termasuk di Dondo, belum ada yang tahapan eksploitasi, semua tahap penelitian dan pengambilan sampel, untuk diteliti atau pada tahapan eksplorasi, demikian Amran Amir. (ron)  

Sumber : Radar Sulteng
Senin, 9/4/2012

Jumat, 06 April 2012

Demo PT CPM, Aktivis Mengaku Diintimidasi




Masyarakat Tolitoli Nyatakan Dukung PT CPM

PALU – Sejumlah Aktivis dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD) mengaku mendapat intimidasi setelah melakukan aksi unjuk rasa. Hal ini diungkapkan saat menggelar Konferensi pers dengan sejumlah wartawan, di sekretariat Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng, Rabu (4/4) kemarin.
Salah seorang aktivis IPPMD, Mispa, yang ikut melakukan unjuk rasa ke kantor PT Citra Palu Mineral (CPM) di Palu pada 21 Maret lalu, mengaku mendapat intimidasi berupa larangan untuk kembali melakukan aksi unjuk rasa ke kantor CPM.
“saya saat itu menjadi korlap saat aksi itu. Makanya orang yang mengaku dari CPM itu menelepon dan melarang saya untuk berdemo kembali,” sebut Mispa, yang juga mahasiswa Mipa Untad ini.
Tidak hanya itu, pihak keluarganya di Dondo, Kabupaten Tolitoli, juga diberikan informasi yang salah tentang aksi demonstrasi di kantor CPM, oleh orang yang diduga suruhan pihak CPM. “ katanya, aksi saya berunjuk rasa di Palu, sudah keluar jalur. Padahal, kami ingin menyelamatkan lahan rakyat disana yang ingin dijadikan lokasi tambang CPM,” ungkap nya.
Manager Riset dan Kampanye Jatam Sulteng, Andika, yang turut hadir dalam konferensi pers kemarin, mengaku menyayangkan tindakan intimidasi, yang dinilai sebagai reaksi atas kritikan yang dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat termasuk mahasiswa, menentang rencana operasi tambang di Dondo, Tolitoli. ”ini merupakan tindakan yang tidak demokratis, dan menunjukkan ketidakprofesionalan CPM menghadapi kritikan dari penduduk setempat ujar Andika.
Sementara itu, Direktur ED Walhi Sulteng, Ahmad Pelor, menyatakan bahwa rencana pihak CPM melakukan operasi di Blok IV, Dondo seluas 28.142 Hektar, dapat merugikan masyarakat sekitar. Karena didalam lahan tersebut, sebagian merupakan pemukiman suku lauje dan juga terdapat perkebunan masyarakat.
“untuk itu, kami juga meminta kepada Gubernur untuk mengeluarkan sikap politik terhadap kontrak PT CPM sebagaimana sikap politiknya terhadap PT Inco (Vale Indonesia) yang dianggap merugikan,” tandas nya.
Sementara di Tolitoli kemarin, juga digelar konferensi pers terkait masalah tersebut. Di Tolitoli sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa kepala Desa di Kecamatan Dondo khususnya Desa Anggasan, Malala dan Ogowele, mempersoalkan keterlibatan warganya dikait-kaitkan dalam aksi penolakan kehadiran  investasi  tambang PT Citra Palu Mineral (CPM) di desa mereka oleh LSM Jaringan Tambang (Jatam) pada 21 Maret Lalu di Palu.
Kepala desa Anggasan, Tamrin P Sugantina kepada media ini Selasa (4/4) kemarin mengungkapkan, selaku orang nomor satu di desanya, ia tidak terima atas sikap LSM yang melakukan aksi penolakan investasi tambang dengan mengatasnamakan masyarakatnya.
“ saya kira sah-sah saja LSM melakukan aksi penolakan, itu hak mereka, sepanjang tidak membawa-bawa nama masyarakat Desa Anggasan. Yang kami persoalkan, mereka melakukan aksi membawa nama masyarakat desa, sementara saat aksi itu tidak ada warga Anggasan yang ikut aksi,”ungkap Tamrin saat ditemui bersama dengan puluhan warganya.
Ia menyatakan, aksi yang dilakukan LSM tersebut dianggap telah mengusik, karena bertolak belakang dengan keinginan seluruh warganya, dimana mereka sangat membutuhkan siapapun investor yang serius ber investasi di desanya.
“justru kami menginginkan investor cepat-cepat Action melakukan Aktifitas pertambangan nya, agar masyarakat setempat sudah bisa merasakan manfaatnya, terutama perekrutan tenaga kerja. Kebetulan CPM yang kami nilai serius melakukan investasi tersebut maka kami mengharapkan CPM bisa menjelaskan atau mensosialisasikan sudah sejauh mana proses atau tahapan atas pembukaan tambang tersebut, “kata tamrin.
Pada kesempatan yang sama, kepala Desa Malala Yusran SE juga mengatakan mendukung keberadaan CPM maupun investasi lainnya, untuk melakukan aktivitas pertambangan di wilayah nya sepanjang sesuai prosedur dan memberikan manfaat bagi pemerintah khususnya masyarakat.
“sejauh ini, kami belum menemukan adanya kegiatan menyimpang yang dilakukan oleh CPM, sehingga tidak ada alasan untuk menolak perusahaan tersebut untuk berinvestasi, apalagi warga desa sangat mengharapkan aktifitas CPM bisa segera ditingkatkan lebih dari sekedar eksplorasi, agar sudah bisa dirasakan manfaatnya,” harap Yusran yang diamini oleh masyarakat yang hadir saat itu.
Sementara Theis, salah seorang tokoh adat Desa Ogowele Kecamatan Dondo menambahkan aksi yang dilakukan oleh LSM yang mengaitkan warga deanya dinilai cukup propokatif dan sengaja menimbulkan kesan seakan-akan penolakan tersebut muncul dari keinginan warga untuk menolak. Sementara mereka tidak menghendaki penolakantersebut.
“rencanan aksi itu sama sekali kami tidak ketahui. Makanya kami kaget mendengar berita masyarakat Dondo menolak CPM. Makanya, melalui kedatangan teman-teman wartawan, kami berharap masalah ini dijelaskan ke publik bahwa kami sama sekali mengharapkan CPM maupun investor lain bisa segaara action didesa kami. Keliru jika kami dikatakan menolak, “tutur Theis.
Senada dengan Theis, Madras ketua BPD Malala menambahkan, pada dasarnya pihaknya sangat mendukung kehadiran CPM untuk melakukan investasi, sepanjang proses investasinya sehat dan serius, makanya pihaknya mengharapkan pihak PT. CPM segera melakukan sosialisasi sehingga ada penjelasan kepada masyarakat terkait, sudah sejauh mana progress pelaksanaan investasi, kemudian mengklarifikasi tudingan dampak negatif semisal dampak lingkungan yang dituding  oleh LSM, kemudian bagaimana bentuk kerjasama dengan Pemkab maupun masyarakat terkait ganti rugi lahan.
“Semua itu, butuh penjelasan kepada masyarakat, sehingga kami sangat berharap kepada PT. CPM untuk dapat melakukan sosialisasi, sehingga masyarakat bisa paham dan mendapatkan kejelasan serta tidak mudah terprovokasi, “ tambah Madras (agg/yus). 
Sumber : Radar Sulteng (4/4 2012).