Minggu, 21 Oktober 2012

Masyarakat Anggasan Tolak CPM

Sumber : Mercusuar
Edisi      : 7 Oktober 2011

Dok. IPPMD
PALU, MERCUSUAR-Masyarakat Desa Anggasan Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, risau dengan masuknya PT Citra Palu Mineral (CPM) yang akan mengeksplorasi tambang emas disana. 

Masyarakat risau dengan dampak kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi, jika CPM telah melakukan eksploitasi. Demikian pers release yang diterima redaksi dari Gerakan Masyarakat Anggasan, tadi malam (7/10). 

“Sampai sekarang kami masyarakat Desa Anggasan tidak pernah diperlihatkan dokumen penelitian, Izin dan Amdal serta peta lokasi perusahaan yang akan masuk di Desa kami. Olehnya itu kami masyarakat Desa Anggasan tidak ingin pemerintah dan perusahaan CPM merusak lingkungan kami dan terus membohongi masyarakat dengan informasi palsu,” kata Moh Rifai M Hadi, Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo. 

Dikatakan Rifai, masyarakat berhak dan wajib tahu proses penyusunan Amdal. Pemprakarsa kegiatan lanjutnya, wajib mengumumkan terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun Amdal dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan. 

“Masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Tapi sayangnya ketentuan diatas tidak pernah dilakukan sama sekali baik pihak manajemen CPM maupun dari pemerintah sendiri. Kami hanya tidak mau lingkungan kami dirusak, kami tidak mau sosial budaya kami berubah, ekonomi kami menurun drastis, seperti halnya daerah-daerah lain yang pernah atau yang sedang dalam penguasaan perusahaan tambang, baik swasta maupun negara,” paparnya. TMU/* 

Dondo Study Club: Dinamika Mahasiswa



Dondo Studi Club (DSC) adalah sebuah Forum diskusi ilmiah, yang di bentuk oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), guna membahas atau mendiskusikan sesuatu yang dianggap perlu di tataran internal IPPMD. Kali ini forum DSC mendiskusikan tentang “Dinamika Mahasiswa”. Yang dilaksanakan tanggal 20 Oktober 2012 di Kantor Jatam Sulteng.

Andika, aktivis Jatam Sulteng, sebagai pemateri dalam forum DSC ini. Selain dari diskusi tentang dinamika mahasiswa, Andika juga membawakan tentang sejarah penjajahan di dunia, dan lain-lain.  

Secara umum, mahasiswa adalah sebagai kaum intelektual dan kaum terpelajar, juga sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial. Mahasiswa berbeda dengan siswa (SMP atau SMA). Mahasiswa mempunyai satu kapasitas tersendiri yang berbakti pada masyarakat sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi.

Namun, dinamika Mahasiswa di zaman globalisasi ini, hampir sudah tidak bisa diharapkan lagi. Apalagi diterapkannya Undang-undang perguruan tinggi, sebagai salah satu bentuk privatisasi sektor pendidikan. Ini yang kemudian menjadi sebuah anekdot dalam dinamika di zaman sekarang, yang lebih cenderung apatis terhadap keadaan sosial masyarakat. Kepasrahan mahasiswa terhadap setiap permasalahan-permasalahan sosial masyarakat semakin menjamur. Karena ketidakmampuan mahasiswa dalam membentuk karakter dirinya, dan menuangkan segala pemikiran, bahwa “bangkuh kuliah-lah” nomor satu, daripada permasalahan rakyat.

Dunia mahasiswa, menjadi hampir bisa dikatakan sebagai kelompok “hedonisme” yang terkungkung dalam romantisme dunia kampus. Itulah dinamika mahasiswa sekarang, yang sangat pelik menengok kebelakang atau diluar kampus.

Diberlakukannya NKK_BKK dibuat, yang sebelumnya di adakan senat kampus. Jadi, mahasiswa di kekang di dalam kampus da tidak bisa berpolitik dengan rakyat. slogannya adalah, politik no pembangunan yes.
Kampus sekarang adalah pabrik intelektual.

Masyarakat dan Dinamikanya

Mahasiswa itu bukan sesuatu penamaan yang tumbuh dan jatuh dari langit. Bahwa masyarakat Indonesia dalam sejarah nya bukan semenjak ada. Yang disebut sebagai dialektik. Perkembangan sejarah manusia disebut sebagai dialektika. Bumi ini terbangun dari proses timbunan dan fase yang cukup panjang. Indonesia alamnya sungguh ganas, karena jumlahnya cukup banyak dari jumlah manusia. Masyarakat kita ini, adalah masyarakat bercampur baur, dari proses migrasi yang cukup panjang. Yang mempunyai suku, etnis, agama, dan lain-lain. Ada yang berasumsi bahwa kita adalah masyarakat china tua. Ada juga yang mengatakan bahwa, manusia terbentuk pecahan lempengan.

Tapi yang perlu diingat bahwa, masyarakat dulu yang hidup mempunyai fase yang cukup berat terhadap alam. Menghadapi singa, harimau, gajah, babi yang buas, dan binatang-binatang lain. Sehingga, mereka sering berpindah-pindah.

Imprealisme pertama seperti romawi yang menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia, sehingga terjadi proses pembauran penduduk. Soal ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan berdiri sendiri, atau bebas nilai, misalnya orang tiba-tiba mengenal huruf latin. Proses itu mengalami proses impor-ekspor, melalui perdagangan yang masuk di Indonesia terutama di wilayah-wilayah pesisir. Bukan tidak ada sekolah dimasa itu, tapi pengetahuan yang kita miliki itu tidak sejalan dengan hegemoni dengan budaya yang kita miliki saat itu.

Eropa pada umumnya, bersatu dalam kerjaaan romawi. Sementara pada Persia. Iran, Irak, dan lain-lain, masuk dalam wilayah Persia. Ketika proses itu terjadi, di Asia Tenggara muncul kekuatan dinasti Yin. Yang melalui proses hegemoni atau dengan perang. Dunia pada saat itu, bukan di tentukan oleh kekuatan pena, namun, di tentukan oleh kekuatan finansial dan pedang. Tehnologi pada saat itu, semua bergantung pada situasi alam. Jadi jika terjadi kegagalan, maka perlu adanya ekspansi ke negara tetangga untuk mengambil tanaman-tanaman lain.

Oral law (hukum tidak tertulis) di gunakan di inggris pada saat itu. Konsepsi negara-negara jajahan sangat berlaku saat itu, terutama ketika sebuah negara menjajah sebuah negara. Sehingga matilah ilmu sangsakerta.
Di Sulawesi tengah, di Poso, Kulawi, Palu, dan wilayah-wilayah lain, tidak memiliki bangunan tersendiri. Mereka saling berperang karena belum mengetahui proses alam. Kerajaan Luwu mengekspansi kerajaan-kerajaan kecil sehingga disatukan menjadi kerajaan luwu. Namun, tetap memakai kewenangan berbasis sukuisme. Disaat ekspansi terjadi, muncullah ilmu pengetahuan, yang dinamakan lantara. Di Sulteng perkembangan masyarakat, bukan jumlah masyarakat yang cukup banyak, namun ada proses transmigran.  Pulau jawa dan sumatera terbagi menjadi beberapa spektrum masyarakat.

Belanda masuk ke dataran tinggi Sulawesi Tengah  melalui Miranda dan luis yang mengajarkan agama kristen.  Jauh sebelum indonesia merdeka, masyarakat sudah mengenal  tulisan melalui sekolah Belanda.

Belanda itu tidak menghancurkan kerajaan, yaitu untuk memudahkan proses pemgambilan upeti, bahkan Belanda membuat kerajaan dan membiarkan kerajaan-2 tetap independent. Kerajaan di buat sebagai perantara, untuk memungut upeti.

Di tolitoli, Lanoni, hidup dalam keadaan komunal, tidak ada kerajaan besar disana. Karena di taklukkan oleh kerajaan bantalan. Yang di manfaatkan oleh Belanda untuk menarik upeti masyarakat di tolitoli.  Tapi kebijakan seperti itu, mengalami proses berubah, karena dinamika politik di Norwegia, yang berpengaruh pada fase pendidikan  dan kebijakan di Indonesia. Hukum yang harus dipakai di Indonesia adalah hukum adat, itu menurut van vollenhoven.

Hukum di tanah air dibagi tiga. Kelompok pribumi: arab, tionghoa (hukum adat) karena jika memakai hukum positivisme maka tidak ada keadilan. Kelompok eropa; ledden Universitas Adat di Belanda. Saingannya utre.

Budi utomo lahir sebagai sebuah organisasi untuk mengkritisi pemerintah, agar anak petani atau pribumi juga harus di sekolahkan.

Juga sarekat dagang islam, bekerja sama dengan ISDV untuk pendidikan-pendidikan, sehingga tersebur dibeberapa wilayah di Hindia-Belanda pada saat itu. Disaat yang sama pemuda di Indonesia banyak yang berbakat dan dikirm ke Belanda untuk bersekolah. Syahril, tan malaka dikirim ke Belanda, tapi mereka tidak belajar seperti yang di perintahkan oleh pemerintah Belanda, namun mereka hanya bergabung pada aktivits-aktivis di Belanda. Tan malaka pertama kali mendeklarasikan Niir Indonesia (RI, jauh sebelum orang berfikir tentang itu  tan malaka sudah menulis nya. Tan malaka pulang dari Belanda dan bergabung dengan partai komunis Indonesia.    

Senin, 15 Oktober 2012

IPPMD: Laksanakan Inisiasi III


Oleh: Bidang Info Dan Pers IPPMD
Suasana Penerimaan Materi: Dok. IPPMD
Inisiasi atau bisa dikatakan sebagai penerimaan anggota baru, merupakan suatu proses di banyak organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, dan kepelajaran, untuk melegitimasi calon anggota menjadi anggota, yang akan bergabung di organisasi tersebut. Begitu pun dengan Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD)-Palu, menggagas suatu program inisiasi guna menjalankan amanah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta Program kerja pengurus periode 2012-2013.

Inisiasi III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD)-Palu, telah sukses dilaksanakan pada tanggal 12 hingga tanggal 14 Oktober 2012, di Gedung KNPI Sulteng. Yang mengusung tema “Meningkatkan Kebersamaan Untuk IPPMD Yang Lebih Baik”. Inisiasi ini di ikuti oleh 10 peserta dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Dondo, sebagai bentuk dedikasi mereka, yang harus melalui proses edukasi ini.

Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD) - Palu adalah sebuah organisasi Kepemudaan, Kepelajaran dan Kemahasiswaan yang berdiri pada tahun 2007 di Palu - Sulteng. Pada tahun 1999 jumlah mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi masih sangat sedikit dikarenakan oleh berbagai faktor Keterbatasan biaya. Pada tahun 2003 jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terus meningkat. Pada tahun 2007 jumlah angka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi meningkat drastis mencapai 80% dari persentase kelulusan siswa di SMA Negeri 1 Dondo setiap tahunnya. Jumlah Mahasiswa Dondo di Palu pada tahun 2011 sudah mencapai ± 116 orang yang tersebar di beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta seperti, Universitas Tadulako (UNTAD), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN Datokarama), Universitas Muhammadiyah (UNISMUH Palu), Universitas Alhkhairat (UNISA Palu) dan beberapa perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya dengan berbagai jurusan yang diminatinya.

Organisasi ini, sekiranya mempunyai berfungsi untuk mendukung kesempurnaan pendidikan dan memperkaya kebudayaan nasional. Organisasi kepelajaran dan kemahasiswaan ditujukan untuk: mengasah kematangan intelektual, meningkatkan kreativitas, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan daya inovasi, menyalurkan minat bakat; dan/atau menumbuhkan semangat kesetiakawanan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejalan dengan fenomena diatas, Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo – Palu (IPPMD) juga diharapkan dapat memberikan perhatiannya kepada Mahasiswa yang juga merupakan komunitas dari masyarakat ilmiah yang selalu berorientasi dalam memberikan kontribusinya kepada bangsa dan rakyat secara keseluruhan, dimana kita selalu diharapkan sebagai tumpuan masa depan dalam menjalankan pembangunan menghadap tantangan era globalisasi, yang sekaligus juga menuntut untuk dapat selalu menghasilkan keluaran-keluaran yang berkualitas.

Kader-kader baru sangat di butuhkan dalam setiap organisasi yang berbasiskan keanggotaan, sebagai penentu maju mundurnya  sebuah organisasi. Sebab, para kader itulah, dapat melanjutkan roda organisasi sesuai dengan visi-misinya, dan juga sebagai kontrol atas peningkatan kualitas anggota dapat terealisasi sesuai dengan apa yang di inginkan bersama.

Upacara Pengukuhan

Upacara Pengukuhan: Dok. IPPMD
Setelah materi kelas selesai selama dua hari  di Gedung KNPI, peserta Inisiasi akan di kukuhkan sebagai bentuk legitimasi dari Badan Pengurus IPPMD. Upacara pengukuhan ini, di laksanakan di Desa Pompo Kecamatan Tanantovea, pada tanggal 14 Oktober 2012, yang diikuti sekitar 30-an anggota. Sebelum upacara pengukuhan dilaksanakan, panitia pengadakan ramah-tamah, untuk menjalin kekerabatan sesama anggota dan peserta.

Dalam upacara pengukuhan ini, telah melantik sebanyak 10 orang anggota muda IPPMD, antara lain:  Taufik, Dedy Harsono, Musfira, Hadijah, Witrianingsih, Masna, Hamka, wahyudi, Nursaid, dan Sarina, yang telah mengikuti beberapa item kegiatan serta memenuhi persyaratan tertentu dari panitia pelaksana. Dan di ikuti oleh anggota Muda, anggota tetap, serta pengurus-pengurus lainnya.

Sangat diharapkan dengan di kukuhkan anggota baru IPPMD ini, dapat mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kualitas anggota, memajukan organisasi dan mengembangkan pembangunan daerah berbasis pelestarian lingkungan. Sebab, kader baru, setidaknya sudah diberikan beberapa materi dasar untuk menunjang pengembangan individu yang lebih baik lagi.

Hal itu, yang kemudian menjadikan suatu kebanggaan sendiri buat IPPMD, sebab sekecil apapun kontribusi itu, “tetap dinamakan kontribusi”.








Sabtu, 06 Oktober 2012

Sejarah Singkat Peristiwa Perlawanan Rakyat Malomba Kecamatan Dondo Kab. Tolitoli Terhadap Pemerintah Jepang Tanggal 18 Juli 1945



Monumen Pahlawan Dondo; Dok: IPPMD
Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa indonesia selama 350 tahun dijajah oleh bangsa belanda. Nanti pada akhir tahun 1941, pemerintah belanda menyerah kepada pemerintah jepang.

Pemerintah jepang mulai berkuasa di Indonesia awal tahun 1942. Pada permulaan  pemerintahan jepang tehadap bangsa Indonesia sangat baik. Sampai adanaya jembatan dari pemerintah jepang, indonesai – jepang sama-sama.

Tapi setelah pemerintahan jepang berjalan 2 tahun di Indonesia mulailah mengganas. Dalam menjalanjkan pemerintahan. Masyarakat dipaksa bekerja untuk kepentingan jepang, ada keslaahan sedikit dilakukan oleh masyarakat maka diadakan hukuman (pemukulan), kemudian masyarakat dipaksa berkebun dan bertani. Hasilnya 75 % diambil oleh pemerintah jepang, sehingga akibatnya masyarakat kesulitan makanan dan juga pakaian.

Pokoknya selama pemerintahan jepang, masyarakat menderita kehidupannya. Akhir bulan juli 1945 seorang penduduk malomba yang merantau kurang lebih 30 tahun di kalimantan, bernama Tantong Karonjani kembali ke malomba. Oknum inilah yang membawah berita bahwa pemerintah jepang telah menyerah terhadap pemerintah sekutum(amerika, Inggris, Belanda).

Dasar berita inilah masyarakat malomba, yang selama ini sangat menderita, mendorong untuk mengadakan musyawarah dengan maksud melawan kepada pemerintah jepang.

Awal bulan juli 1945 masyarakat malomba mengadakan musyawarah dipimpin oleh Tantong karonjoni, musyawarah dilaksanakan dirumah bapak Radjaili yang pada saat itu sebagai ketua partai Syarikat Islam. Hadir dalam musyawarah ada dua suku bangsa yaitu suku Dondo dan suku Bugis semuanya penduduk desa Malomba (kurang lebih 50 orang).

Dalam musyawarah menghasilkan sebagai berikut :
1    - Masyarakat malomba harus mengadakan perlawanan kepada pemerintah jepang.
2    - Penjagaan dibahagi dua yaitu arah timur dan arah barat.
      - Arah timur dipimpin oleh Baula (suku Dondo)
4    - Arah barat dipimpin oleh Lasainong (suku Bugis)

Dengan catatan : jika musuh masuk dari arah timur maka arah barat membantu demikian sebaliknya.

Sekitar tanggal 7 juli 1945 mulailah masyarakat Malomba mengadakan aksi hasil musyawarah yaitu menangkap dan mengikat tiga orang Polisi jepang yang bertugas dimalomba yaitu Jos Pasla, Kare dan Manapo. Ketiga orang Polisi yang ditangkap ini diserahkan kepada kepala kampung Malomba (Logarodi). Tanggal 10 Juli 1945 ketiga polisi yang dalam pengawasan kepala kampung ini sempat melarikan diri. Manapo lari ketarakan kere lari ke Bambapula (dibunuh oleh masyarakat Bambapula) dan Jos Pasla lari ke Tolitoli. Yos Pasla inilah yang melaporkan kepada atasannya (pemerintah jepang).

Dengan dasar laporan ini pemerintah jepang mempersiapkan pasukan untuk menggempur masyarakat malomba. Turut dalam rombongan pemerintah jepanhg itu ialah : Imaki Ken Kanrikan (Bupati), Raja Tolitoli H. Moh saleh Bantilan, jum Po Co (Kepala Polisi) Danres dan Dua regu anggota polisi Jepang.

Rombongan berangkat dari Tolitoli menggunakan perahu turun di Malala, Langsung ke Tinabogan dan tepat hari kamis 18 Juli 1945 tiba di malomba jam 11 siang inilah puncak peristiwa. Rombongan pemerintah jepang pada saat itu disambut oleh masyarakat Malomba kurang Lebih 20 orang termasuk Lanoni, Bebelan, Taniangka, Mangi Darinong, Abd. Wahab, H. Hansah DLL. Setelah bertemu dan berhadap-hadapan antara masyarakat dan Pemerintah Jepang, Jum po Co (kepala Polisi) Danres memberi Isyarat supaya masyarakat duduk dan senjata (parang) harus dibuang jauh-jauh. Sesudah masyarakat duduk semua dan parang masing-masing mereka sudah buang, berarti keadaan dalam suasana aman, seorang polisi jepang bernama hamlet semen membuang tembakan keatas tanda aman. Tapi masyarakat sama sekali tidak mengetahui keadaan sedemikian itu, mereka mengertikan sudah mereka yang ditembak, tidak berpikir panjang lebar lagi langsung mengamuk. Lanoni langsung memotong Imaki Ken Kanrikan, Bebelan menikam JumPoco, suasana sudah kacau balau. Dalam keadaan demikian itu Imaki Ken Kanrikan dan Lanoni mati ditempat sedang bebelan dan H. Hamsah luka parah, tapi masih sempat menyingkirkan diri ketempat yang aman. Lanoni di makamkan di Desa Ogogasang dan Imaki Ken Kanrikan di Desa Tinabogan. Desa malomba pada saat itu tidak aman, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri sampai-sampai lari ke pantai timur (swapraja Moutong).

Satu bulan kemudian Pemerintah Jepang mengadakan operasi dan penangkapan kepada semua anggota pemberontak. Tantong Madayuni dan beberapa kawan sempat menyelamatkan diri kembali ke kalimantan dan nanti meninggal dunia tahun 1985, di pulau Duawan Kab. Berau.

Sedangkan Bebelan, Taniangka Mangi Darinong, Muhsin, H. Hamsah, Amat, Baco Lena, Abd. Wahab, Usman, Adam Labada dan Labuoku (Ambo Ratu) ditangkap dan dibawah ke Tolitoli, langsung diadili. Keputusan dari pengadilan Jepang kepada 11 orang penduduk malomba tersaebut dijatuhi hukuman mati (dipancung) dikaki gunung Panasakan Kab. Tolitoli, sedangkan 7 orang hanya disiksa oleh pemerintah jepang selama 3 bulan di tansi polisi Tolitoli, mereka ialah lamadu, Datu Radjaili, Jafar Bantilan, Baula, Patana dan Lasainong. Demi diketahui oleh masyarakat Kab. Tolitoli umumnya, peristiwa 18 Juli 1945 diMalomba dapat menyelamatkan rakyat desa Nalu yang pada saat itu kurang lebih 1000 orang dalam tahanan jepang karena mereka dituduh sebagai mata-mata musu. Karena rencana pemerintah jepang, sekembalinya Imaki Ken Kanrikan (bupati) dari Malomba rakyat Nalu tersebut akan dipancung semua.

Tuhan Yang Maha Kuasa masih melindungi jiwa rakyat Nalu yang sudah direncanakan oleh pemerintah jepang dibunuh.

Seandainya tidak ada perlawanan masyarakat Malomba 18 Juli 1945 itu pasti rakyat desa Nalu kurang lebih 1000 orang sudah dibunuh.

Berkat adanya peristiwa tersebut maka, selamatlah rakyat Nalu dari Hukuman mati dari pemerintah jepang.
Demikian riwayat singkat dari Persitiwa 18Juli 1945 di Malomba, semoga mendapat sambutan positifyang layak dari masyarakat demi generasi penerus.
Dondo, 10 Juli 2011
Yang membuat

H. Mahmud Radjaili
Ketua Majelis Adat Dondo

Sabtu, 30 Juni 2012

Refresh Otak di Taipa Beach

Oleh: Bidang Info Dan Pers

Kaget, adalah mimik wajah sang penjaga pintu gerbang di salah satu objek wisata Kota Palu, “Silae Beach,” ketika melihat segerombolan orang berbaju merah, memakai motor, berlahan-lahan merapat dan tidak sabar lagi ingin masuk kelokasi objek wisata Silae Beach, sekitar sepuluh kilo meter dari kota Palu. Sabtu, 30 Juni 2012.

Kami memang sengaja mengunjungi objek wisata itu, sekedar merefresh otak yang sudah mulai merebah kemana-mana. Angin sepoi-sepoi pun sudah mulai menyentuh kulit. Menebarkan suasana alamnya yang begitu sejuk disekitar jalan sebelum pintu gerbang masuk. Karcis tanda masuk telah diserahkan kepada kami, yang harus ditukar dengan money lima ribu rupiah, sebagai bukti tanda masuk.

Pohon-pohon yang rindang, ada yang sudah tumbuh besar dan, ada pula yang masih berumur “jagung,” terlihat disisi kiri dan kanan kami. Ada beberapa fasilitas yang terdapat dilokasi sekitar 30 hektar itu; tempat permandian, alat band, villa, gazebo, kantin dan, lain-lain.

Utusan pun telah berangkat, untuk bertemu kepada penjaga gazebo. Kami hendak menyewa satu gazebo itu untuk melepas kepenatan otak. Gazebo itu, diatas air yang keruh, tepat pada posisi ditengah genangan air. Ada empat buah tempat duduk, dengan ukuran sekitar 3 x 3 meter di dalam gazebo itu. Dengan dilapisi gomi berwarna agak kecoklatan, yang dihiasi oleh hasil sobekan tangan-tangan nakal. Jika kita menengok kearah barat, maka lautan lepas yang biru, cukup bersih, jelas terlihat mata telanjang. Di bibir pantai itu, ada beberapa pondok-pondok kecil nan imut berjejer rapi, seakan memanggil kami untuk mendudukinya. Kicauan burung gelatik, dengan warna-warni nya yang indah nan menawan dan, suaranya yang merdu, memekik telinga, menjadi “penghibur” khas siang itu. Burung-burung gelatik itu bermain bersama kawan-kawannya yang lain. Di dahan pohon yang rindang, seakan mereka betah di wilayah itu. Burung itu juga terlihat mencabik-cabik dedaunan yang dibawa dari tengah lapang yang luas. Mengandung cukup makna, bahwa sisa-sisa dedaunan itu dibagikan kepada kawan-kawan nya yang lain, di arah utara gazebo itu.

Jika kita melihat kearah timur, maka pandangan mata tertuju pada sebuah gumpalan bukit yang, ditumbuhi oleh rumput Jepang, menjalar disekelilingnya. Gumpalan bukit itu, juga di kelilingi oleh air yang keruh. Juga bukit itu diapit oleh dua buah jempatan penyeberang. Untuk digunakan penghuni lokasi itu.

Semakin banyak terlihat aneka hiburan terlihat, maka segerombolan baju merah tadi semakin berminat. Tapi apalah daya, “ekonomi lemah” telah menjadi penghambat untuk menikmati nya.

“Saya ingin naik bebek-bebek itu, siapa yang mau traktir saya?” ungkap Linda dengan, menunjukkan muka kasihan.

“Kau naik dibelakangnya Dani saja, karena itu tidak di bayar,” singgung Muli dengan gurau nya.
Begitupun dengan Adri yang, ingin bernyanyi setelah mendengar suara electon dari arah selatan.

“Kiyat, temani saya menyanyi, kita harus menunjukkan suara indah kita kepada mereka yang, ada di lokasi ini,” singgung Adri.

“Marilah…!!! kayaknya saya juga ingin bernyanyi, saya sudah lama ingin bernyanyi namun, tidak pernah tercapai di panggung-panggung seperti itu,” balas Kiyat, sambil tersenyum, seakan berharap Adri serius mengajak nya.

Semua tercapai; Linda, Adri dan, Kiyat senang-gembira karena keinginan mereka terwujud. Begitupun dengan Dani yang sedang mengambil gambarnya sendiri dengan, memamerkan “dua jari” tangannya. Dan Mia terpancing akan hal itu, untuk bergabung bersama Dani yang sedang menggandakan seluruh tubuhnya di Handphone.

“Foto dulu saya Dani tapi, harus memakai Handphone nya Rudi, karena Handphone nya agak bagus,” gombal Mia.

Antara Dani dan Mia juga, senang akan aktifitasnya itu. Sementara “si baju” merah yang lain, sedang asyik berdiskusi dengan macam-macam tema.

Beberapa jam kemudian, kami berjalan mengelilingi Taipa Beach yang, hampir dipenuhi dengan rumah-rumah panggung. Rumah panggung itu dikelilingi oleh pohon-pohon berdaun hijau. Dalam perjalanan itu, kami bertemu dengan tiga orang ibu yang, umurnya sekitar 60-an tahun. Ibu itu bekerja sebagai “tukang sapu” di Taipa Beach.

Linda yang kami gelar “muka kamera” sering mengeluh ketika tidak ada yang, bersedia  mengambil profil tubuhnya melalui Handphone.  Hal itulah menjadi pemandangan indah bagi ketiga orang ibu itu. Pandangannya seakan tidak bisa berpaling dari Linda yang, sesekali mengeluarkan suara besar.

Namun dibalik kemewahan, kemegahan, dan sejuknya di Taipa Beach itu, satu hal yang harus diingat adalah, tempat itu milik swasta yang satu orang miskin pun sangat tidak berhak masuk dan menikmati segala sarana dan prasaran yang ada di dalam Taipa Beach.
Setelah hampir seharian kami ditempat itu, tiba waktunya untuk kembali ketempat parkir seraya, membunyikan motor, memasang helm dan pulang kehabitat masing-masing.

…..Sebuah Catatan Dari Arah Utara Kota Palu……

Kongres Ke-III IPPMD, Berjalan Sukses


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Suasan Penghitungan Suara

Menjalin Kekerabatan, dan meningkatkan kualitas serta membentuk anggota yang berdedikasi tinggi terhadap lembaga, adalah tema yang diangkat dalam Kongres ke-III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo. Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Tanggal 22 – 24 Juni 2012 di Gedung KNPI Palu.

Berbicara mengenai tema diatas, bahwa yang paling utama dan pertama, agar organisasi berjalan dengan baik adalah menjalin kekerabatan sesama anggota. Berangkat dari situasi saat ini, khususnya di Internal IPPMD itu sendiri, bahwa telah terjadi kelemahan kekerabatan. Oleh karena itu, perlu adanya menjalin kembali, mempererat dan, memperkokoh persaudaraan sesama anggota dan masyarakat Dondo itu sendiri.
Lalu mengapa hal itu terjadi? Dalam berbagai “peta politik” yang dituangkan masing-masing anggota, bahwa ada faktor individualistik yang menggerogoti jiwa anggota. Juga ada ketidakpedulian terhadap sesama dan organisasi, apalagi terhadap daerah Dondo. Hal itulah yang menjadi pokok persoalan yang, selama ini sulit untuk memecahkan persoalan dengan berbagai fenomenanya.

Kongres ke - III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada dasarnya adalah membahas kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sesuai dengan arus organisasi selama ini,  serta memilih dan menetapkan kepengurusan baru.

Serah Terima Jabatan
Banyaknya fenomena yang terjadi di internal IPPMD, menjadi suatu perdebatan yang alot. Lebih luas lagi, bahwa merapikan kembali, menyusun kembali dan, mempererat kembali terhadap situasi-situasi selama ini yang dianggap krusial. Hal inilah dengan, waktu dua hari itu dibebaskan membahas fenomena-fenomena yang ada.

Dipenghujung Kongres itu, para peserta Kongres dengan antusias memilih masing-masing hati nuraninya, untuk menetapkan Badan Pengurus pada periode 2012-2013. Alkiyat J. Dariseh dan Mulyadi Ali S. Opulu menjadi kandidat terkuat pada pemilihan itu. Suasananya pun menjadi tegang, bahkan terjadi dua kali pemilihan. Karena pada pemilihan pertama terjadi keseimbangan suara. Sehingga, dilakukan pemilihan kedua dan, dimenangkan oleh Alkiyat J. Dariseh, yang hanya berbeda satu suara dengan Mulyadi Ali S. Opulu.
Hingga pukul 05.00 pagi kongres ke-III  itu dilaksanakan, para peserta kongres pun terlihat kelelahan, karena tidak tidur semalaman. Setelah itu Kongres ke-III ditutup secara resmi oleh ketua terpilih, Alkiyat J. Dariseh.


Masyarakat Dondo Dan Fenomenanya


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Masalah sosial yang terjadi di Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, telah banyak terjadi. Sehingga, proses dalam berinteraksi baik sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya tidak mampu diminimalisir dengan baik. Dari sektor kepemudaan pun sudah menjadi perselisihan, entah ada proses penyelesaiannya atau tidak. Namun, hal ini perlu di tanggapi dengan serius. Hingga kini fenomena yang terjadi di Kecamatan Dondo, diantaranya : Kemiskinan, Kejahatan, Disorganisasi keluarga, Masalah Generasi muda, Peperangan, Pelanggaran norma-norma dalam Masyarakat, Masalah Lingkungan.Sehingga, Kecamatan Dondo yang memiliki luas 624, 23 Ha dan, didiami oleh 21.828 jiwa penduduk itu, sewaktu-waktu akan menimbulkan Degradasi yang dahsyat nantinya.

Fenomena-fenomena sosial dalam masyarakat kita di atas, jika nuansa kastalistik tadi tidak diatasi secara sistemik dan segera, setidaknya ada 2 (dua) dampak paling berbahaya yang harus dituai oleh kita semua sebagai masyarakat  yang bertanggungjawab atas segala fenomena yang terjadi di dalamnya, yaitu, pertama “keterbelakangan abadi” bagi masyarakat mayoritas yang ditandai dengan rendahnya partisipasi dan kepedulian masyarakat atas fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya serta tidak mampu mengkritisi apapun kebijakan pemimpinnya.Kedua gejala disintegrasi yang semakin mengganas yang ditandai dengan menjamurnya gerakan-gerakan separatisme.

Menyikapi fenomena sosial yang terjadi di Dondo, hendaknya kita bersikap aktif dalam isyu fenomena tersebut.Maka hal ini perlu adanya pendiskusian yang lebih dalam, untuk mencarikan solusi “ampuh” dalam penyelesaian Fenomena sosial masyarakat Dondo.

Fenomena sosial masyarakat Dondo menjadi perdebatan serius di gedung KNPI, yang dilaksanakan oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada tanggal 22 Juni 2012. Turut hadir dalam diskusi itu adalah; Camat Dondo, Urip Halim S. Pd, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dapil Dondo, Rahmat T. Radjia dan, beberapa tokoh-tokoh masyarakat Dondo. Namun, satu hal yang menjadi perdebatan panjang saat itu, adalah mengenai perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi Sumber Daya Alam di kecamatan Dondo.

Perdebatan Mengenai Perusahaan Tambang

Menurut Urip Halim, “Jika masyarakat Dondo ingin meningkat taraf hidupnya harus membuka tangan lebar-lebar atas kedatangan investor asing itu. Saat ini, sumber daya alam di Dondo melimpah dan, hal itu harus dikelolah dengan mendatangkan perusahaan,” ungkapnya.

Tidak berbeda jauh dengan pendapat Urip Halim. Anggota Dewan asal Dondo juga mengatakan hal demikian, bahwa jika Dondo ingin maju kita harus membukakan “karpet merah” kepada mereka.

Pendapat itu menuai protes keras dari Mahasiswa Dondo. Bahwa pertambangan bukan jalan satu-satunya membangun daerah Dondo, bukan juga satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Dondo. Hal ini memang tidak masuk diakal, sebab dilihat dari berbagai daerah di Indonesia, bahwa daerah jajahan perusahaan tambang sama sekali tidak mendapatkan dampak positif. Paradigma berpikir harus dirubah, bukan karena melihat uang “merah” berlipat ganda lantas kita harus “menyambut salam” para investor asing itu.

Faktor-faktor lain juga harus dipikirkan lebih jauh, misalnya: kerusakan lingkungan, keadaan sosial masyarakat Dondo, dan lain-lain. Padahal pertanian dan perkebunan kakao di kecamatan Dondo berpotensi untuk meningkat, begitupun dengan objek wisata. Dari segi itu yang harus ditingkatkan, bukan menyambut baik para perusak lingkungan itu.

Menurut Ramadhani, salah satu Anggota dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), mengatakan bahwa, “Merkuri dan Sianida adalah bahan kimia yang beracun dan, pastinya akan digunakan untuk pemisahan logam oleh perusahaan. Kita tidak bisa menelan mentah-mentah atas kebijakan pemerintah yang melegalkan perusahaan tambang itu di Dondo. Karena sangat tidak berpihak pada masyarakat, juga tidak menguntungkan masyarakat Dondo.”

Masih menurut Dhani, “Kami juga sudah turun kejalan untuk menolak eksplorasi PT. Citra Palu Mineral (CPM). Kami menolak tentunya mempunyai alasan yang kuat, bahwa dalam wilayah konsesi CPM itu, terdapat pemukiman dan lahan perkebunan warga.” Lanjutnya, “CPM ini adalah milik asing, walaupun sebagian saham milik Aburizal Bakrie. Perusahaan Bakrie di Sidoarjo telah menenggelamkan sejumlah desa, dan perusahaan Bakrie tersebut lepas tangan atas bencana yang ditimbulkan perusahaannya. Apakah kita membebaskan perusahaan Bakrie merusak lingkungan Dondo?” tegasnya, dengan suara yang lantang.
Diskusi itu berlangsung hingga pukul 21.20 wita. Dengan menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan dibawa ke kecamatan Dondo, untuk ditindaklanjuti. Namun, dalam catatan kami bahwa, tetap konsisten dalam penolakan Perusahaan Tambang di Kecamatan Dondo. Dan hal ini adalah HARGA MATI.