Minggu, 21 Oktober 2012
Dondo Study Club: Dinamika Mahasiswa
Dondo
Studi Club (DSC) adalah sebuah Forum diskusi ilmiah,
yang di bentuk oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), guna
membahas atau mendiskusikan sesuatu yang dianggap perlu di tataran internal IPPMD.
Kali ini forum DSC mendiskusikan tentang “Dinamika Mahasiswa”. Yang dilaksanakan
tanggal 20 Oktober 2012 di Kantor Jatam Sulteng.
Andika, aktivis Jatam Sulteng, sebagai pemateri
dalam forum DSC ini. Selain dari diskusi tentang dinamika mahasiswa, Andika juga
membawakan tentang sejarah penjajahan di dunia, dan lain-lain.
Secara umum, mahasiswa adalah sebagai kaum
intelektual dan kaum terpelajar, juga sebagai agen perubahan dan agen kontrol
sosial. Mahasiswa berbeda dengan siswa (SMP atau SMA). Mahasiswa mempunyai satu
kapasitas tersendiri yang berbakti pada masyarakat sesuai dengan tri dharma
perguruan tinggi.
Namun, dinamika Mahasiswa di zaman globalisasi ini,
hampir sudah tidak bisa diharapkan lagi. Apalagi diterapkannya Undang-undang
perguruan tinggi, sebagai salah satu bentuk privatisasi sektor pendidikan. Ini yang
kemudian menjadi sebuah anekdot dalam dinamika di zaman sekarang, yang lebih
cenderung apatis terhadap keadaan sosial masyarakat. Kepasrahan mahasiswa
terhadap setiap permasalahan-permasalahan sosial masyarakat semakin menjamur. Karena
ketidakmampuan mahasiswa dalam membentuk karakter dirinya, dan menuangkan
segala pemikiran, bahwa “bangkuh kuliah-lah” nomor satu, daripada permasalahan
rakyat.
Dunia mahasiswa, menjadi hampir bisa dikatakan
sebagai kelompok “hedonisme” yang terkungkung dalam romantisme dunia kampus. Itulah
dinamika mahasiswa sekarang, yang sangat pelik menengok kebelakang atau diluar
kampus.
Diberlakukannya NKK_BKK dibuat, yang sebelumnya di
adakan senat kampus. Jadi, mahasiswa di kekang di dalam kampus da tidak bisa
berpolitik dengan rakyat. slogannya adalah, politik no pembangunan yes.
Kampus sekarang adalah pabrik intelektual.
Masyarakat dan Dinamikanya
Mahasiswa itu bukan sesuatu penamaan yang tumbuh dan
jatuh dari langit. Bahwa masyarakat Indonesia dalam sejarah nya bukan semenjak
ada. Yang disebut sebagai dialektik. Perkembangan sejarah manusia disebut
sebagai dialektika. Bumi ini terbangun dari proses timbunan dan fase yang cukup
panjang. Indonesia alamnya sungguh ganas, karena jumlahnya cukup banyak dari jumlah
manusia. Masyarakat kita ini, adalah masyarakat bercampur baur, dari proses
migrasi yang cukup panjang. Yang mempunyai suku, etnis, agama, dan lain-lain. Ada
yang berasumsi bahwa kita adalah masyarakat china tua. Ada juga yang mengatakan
bahwa, manusia terbentuk pecahan lempengan.
Tapi yang perlu diingat bahwa, masyarakat dulu yang
hidup mempunyai fase yang cukup berat terhadap alam. Menghadapi singa, harimau,
gajah, babi yang buas, dan binatang-binatang lain. Sehingga, mereka sering
berpindah-pindah.
Imprealisme pertama seperti romawi yang
menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia, sehingga terjadi proses pembauran
penduduk. Soal ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan berdiri sendiri, atau bebas
nilai, misalnya orang tiba-tiba mengenal huruf latin. Proses itu mengalami
proses impor-ekspor, melalui perdagangan yang masuk di Indonesia terutama di
wilayah-wilayah pesisir. Bukan tidak ada sekolah dimasa itu, tapi pengetahuan
yang kita miliki itu tidak sejalan dengan hegemoni dengan budaya yang kita
miliki saat itu.
Eropa pada umumnya, bersatu dalam kerjaaan romawi. Sementara
pada Persia. Iran, Irak, dan lain-lain, masuk dalam wilayah Persia. Ketika proses
itu terjadi, di Asia Tenggara muncul kekuatan dinasti Yin. Yang melalui proses
hegemoni atau dengan perang. Dunia pada saat itu, bukan di tentukan oleh
kekuatan pena, namun, di tentukan oleh kekuatan finansial dan pedang. Tehnologi
pada saat itu, semua bergantung pada situasi alam. Jadi jika terjadi kegagalan,
maka perlu adanya ekspansi ke negara tetangga untuk mengambil tanaman-tanaman
lain.
Oral law (hukum tidak tertulis) di gunakan di
inggris pada saat itu. Konsepsi negara-negara jajahan sangat berlaku saat itu,
terutama ketika sebuah negara menjajah sebuah negara. Sehingga matilah ilmu
sangsakerta.
Di Sulawesi tengah, di Poso, Kulawi, Palu, dan
wilayah-wilayah lain, tidak memiliki bangunan tersendiri. Mereka saling
berperang karena belum mengetahui proses alam. Kerajaan Luwu mengekspansi
kerajaan-kerajaan kecil sehingga disatukan menjadi kerajaan luwu. Namun, tetap
memakai kewenangan berbasis sukuisme. Disaat ekspansi terjadi, muncullah ilmu
pengetahuan, yang dinamakan lantara. Di Sulteng perkembangan masyarakat, bukan
jumlah masyarakat yang cukup banyak, namun ada proses transmigran. Pulau jawa dan sumatera terbagi menjadi
beberapa spektrum masyarakat.
Belanda masuk ke dataran tinggi Sulawesi Tengah melalui Miranda dan luis yang mengajarkan
agama kristen. Jauh sebelum indonesia
merdeka, masyarakat sudah mengenal
tulisan melalui sekolah Belanda.
Belanda itu tidak menghancurkan kerajaan, yaitu
untuk memudahkan proses pemgambilan upeti, bahkan Belanda membuat kerajaan dan
membiarkan kerajaan-2 tetap independent. Kerajaan di buat sebagai perantara,
untuk memungut upeti.
Di tolitoli, Lanoni, hidup dalam keadaan komunal,
tidak ada kerajaan besar disana. Karena di taklukkan oleh kerajaan bantalan. Yang
di manfaatkan oleh Belanda untuk menarik upeti masyarakat di tolitoli. Tapi kebijakan seperti itu, mengalami proses
berubah, karena dinamika politik di Norwegia, yang berpengaruh pada fase
pendidikan dan kebijakan di Indonesia. Hukum
yang harus dipakai di Indonesia adalah hukum adat, itu menurut van vollenhoven.
Hukum di tanah air dibagi tiga. Kelompok pribumi:
arab, tionghoa (hukum adat) karena jika memakai hukum positivisme maka tidak
ada keadilan. Kelompok eropa; ledden Universitas Adat di Belanda. Saingannya utre.
Budi utomo lahir sebagai sebuah organisasi untuk
mengkritisi pemerintah, agar anak petani atau pribumi juga harus di sekolahkan.
Juga sarekat dagang islam, bekerja sama dengan ISDV
untuk pendidikan-pendidikan, sehingga tersebur dibeberapa wilayah di
Hindia-Belanda pada saat itu. Disaat yang sama pemuda di Indonesia banyak yang
berbakat dan dikirm ke Belanda untuk bersekolah. Syahril, tan malaka dikirim ke
Belanda, tapi mereka tidak belajar seperti yang di perintahkan oleh pemerintah Belanda,
namun mereka hanya bergabung pada aktivits-aktivis di Belanda. Tan malaka
pertama kali mendeklarasikan Niir Indonesia (RI, jauh sebelum orang berfikir tentang
itu tan malaka sudah menulis nya. Tan malaka
pulang dari Belanda dan bergabung dengan partai komunis Indonesia.
Senin, 15 Oktober 2012
IPPMD: Laksanakan Inisiasi III
Oleh: Bidang Info Dan Pers IPPMD
| Suasana Penerimaan Materi: Dok. IPPMD |
Inisiasi atau bisa dikatakan
sebagai penerimaan anggota baru, merupakan suatu proses di banyak organisasi
kepemudaan, kemahasiswaan, dan kepelajaran, untuk melegitimasi calon anggota
menjadi anggota, yang akan bergabung di organisasi tersebut. Begitu pun dengan
Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD)-Palu, menggagas suatu program
inisiasi guna menjalankan amanah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,
serta Program kerja pengurus periode 2012-2013.
Inisiasi III Ikatan Pemuda Pelajar
Mahasiswa Dondo (IPPMD)-Palu, telah sukses dilaksanakan pada tanggal 12 hingga
tanggal 14 Oktober 2012, di Gedung KNPI Sulteng. Yang mengusung tema “Meningkatkan Kebersamaan Untuk IPPMD Yang
Lebih Baik”. Inisiasi ini di ikuti oleh 10 peserta dari berbagai desa yang
ada di Kecamatan Dondo, sebagai bentuk dedikasi mereka, yang harus melalui
proses edukasi ini.
Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD)
- Palu adalah sebuah organisasi Kepemudaan, Kepelajaran dan Kemahasiswaan yang
berdiri pada tahun 2007 di Palu - Sulteng. Pada tahun 1999 jumlah mahasiswa
yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi masih sangat sedikit
dikarenakan oleh berbagai faktor Keterbatasan biaya. Pada tahun 2003 jumlah
siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terus meningkat. Pada
tahun 2007 jumlah angka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi
meningkat drastis mencapai 80% dari persentase kelulusan siswa di SMA Negeri 1
Dondo setiap tahunnya. Jumlah Mahasiswa Dondo di Palu pada tahun 2011 sudah
mencapai ± 116 orang yang tersebar di beberapa perguruan tinggi baik negeri
maupun swasta seperti, Universitas Tadulako (UNTAD), Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN Datokarama), Universitas Muhammadiyah (UNISMUH Palu), Universitas
Alhkhairat (UNISA Palu) dan beberapa perguruan tinggi dan lembaga pendidikan
lainnya dengan berbagai jurusan yang diminatinya.
Organisasi ini,
sekiranya mempunyai berfungsi untuk mendukung kesempurnaan pendidikan dan
memperkaya kebudayaan nasional. Organisasi kepelajaran dan kemahasiswaan
ditujukan untuk: mengasah kematangan intelektual, meningkatkan kreativitas,
menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan daya inovasi, menyalurkan minat
bakat; dan/atau menumbuhkan semangat kesetiakawanan sosial dan pengabdian
kepada masyarakat.
Sejalan
dengan fenomena diatas, Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo – Palu (IPPMD)
juga diharapkan dapat memberikan perhatiannya kepada Mahasiswa yang juga
merupakan komunitas dari masyarakat ilmiah yang selalu berorientasi dalam
memberikan kontribusinya kepada bangsa dan rakyat secara keseluruhan, dimana
kita selalu diharapkan sebagai tumpuan masa depan dalam menjalankan pembangunan
menghadap tantangan era globalisasi, yang sekaligus juga menuntut untuk dapat
selalu menghasilkan keluaran-keluaran yang berkualitas.
Kader-kader
baru sangat di butuhkan dalam setiap organisasi yang berbasiskan keanggotaan,
sebagai penentu maju mundurnya sebuah
organisasi. Sebab, para kader itulah, dapat melanjutkan roda organisasi sesuai
dengan visi-misinya, dan juga sebagai kontrol atas peningkatan kualitas anggota
dapat terealisasi sesuai dengan apa yang di inginkan bersama.
Upacara
Pengukuhan
| Upacara Pengukuhan: Dok. IPPMD |
Setelah materi kelas selesai selama dua hari di Gedung KNPI, peserta Inisiasi akan di
kukuhkan sebagai bentuk legitimasi dari Badan Pengurus IPPMD. Upacara
pengukuhan ini, di laksanakan di Desa Pompo Kecamatan Tanantovea, pada tanggal
14 Oktober 2012, yang diikuti sekitar 30-an anggota. Sebelum upacara pengukuhan
dilaksanakan, panitia pengadakan ramah-tamah, untuk menjalin kekerabatan sesama
anggota dan peserta.
Dalam upacara pengukuhan ini, telah melantik sebanyak
10 orang anggota muda IPPMD, antara lain: Taufik, Dedy Harsono, Musfira, Hadijah, Witrianingsih, Masna, Hamka, wahyudi, Nursaid, dan Sarina, yang telah mengikuti beberapa item kegiatan serta
memenuhi persyaratan tertentu dari panitia pelaksana. Dan di ikuti oleh anggota
Muda, anggota tetap, serta pengurus-pengurus lainnya.
Sangat diharapkan dengan di kukuhkan anggota baru
IPPMD ini, dapat mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kualitas anggota,
memajukan organisasi dan mengembangkan pembangunan daerah berbasis pelestarian
lingkungan. Sebab, kader baru, setidaknya sudah diberikan beberapa materi dasar
untuk menunjang pengembangan individu yang lebih baik lagi.
Hal itu, yang kemudian menjadikan suatu kebanggaan
sendiri buat IPPMD, sebab sekecil apapun kontribusi itu, “tetap dinamakan
kontribusi”.
Sabtu, 06 Oktober 2012
Sejarah Singkat Peristiwa Perlawanan Rakyat Malomba Kecamatan Dondo Kab. Tolitoli Terhadap Pemerintah Jepang Tanggal 18 Juli 1945
![]() |
| Monumen Pahlawan Dondo; Dok: IPPMD |
Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa indonesia selama 350 tahun dijajah oleh bangsa belanda. Nanti pada akhir tahun 1941, pemerintah belanda menyerah kepada pemerintah jepang.
Pemerintah jepang mulai berkuasa di Indonesia awal tahun 1942. Pada permulaan pemerintahan jepang tehadap bangsa Indonesia sangat baik. Sampai adanaya jembatan dari pemerintah jepang, indonesai – jepang sama-sama.
Tapi setelah pemerintahan jepang berjalan 2 tahun di Indonesia mulailah mengganas. Dalam menjalanjkan pemerintahan. Masyarakat dipaksa bekerja untuk kepentingan jepang, ada keslaahan sedikit dilakukan oleh masyarakat maka diadakan hukuman (pemukulan), kemudian masyarakat dipaksa berkebun dan bertani. Hasilnya 75 % diambil oleh pemerintah jepang, sehingga akibatnya masyarakat kesulitan makanan dan juga pakaian.
Pokoknya selama pemerintahan jepang, masyarakat menderita kehidupannya. Akhir bulan juli 1945 seorang penduduk malomba yang merantau kurang lebih 30 tahun di kalimantan, bernama Tantong Karonjani kembali ke malomba. Oknum inilah yang membawah berita bahwa pemerintah jepang telah menyerah terhadap pemerintah sekutum(amerika, Inggris, Belanda).
Dasar berita inilah masyarakat malomba, yang selama ini sangat menderita, mendorong untuk mengadakan musyawarah dengan maksud melawan kepada pemerintah jepang.
Awal bulan juli 1945 masyarakat malomba mengadakan musyawarah dipimpin oleh Tantong karonjoni, musyawarah dilaksanakan dirumah bapak Radjaili yang pada saat itu sebagai ketua partai Syarikat Islam. Hadir dalam musyawarah ada dua suku bangsa yaitu suku Dondo dan suku Bugis semuanya penduduk desa Malomba (kurang lebih 50 orang).
Dalam musyawarah menghasilkan sebagai berikut :
1 - Masyarakat malomba harus mengadakan perlawanan kepada pemerintah jepang.
2 - Penjagaan dibahagi dua yaitu arah timur dan arah barat.
- Arah timur dipimpin oleh Baula (suku Dondo)
4 - Arah barat dipimpin oleh Lasainong (suku Bugis)
Dengan catatan : jika musuh masuk dari arah timur maka arah barat membantu demikian sebaliknya.
Sekitar tanggal 7 juli 1945 mulailah masyarakat Malomba mengadakan aksi hasil musyawarah yaitu menangkap dan mengikat tiga orang Polisi jepang yang bertugas dimalomba yaitu Jos Pasla, Kare dan Manapo. Ketiga orang Polisi yang ditangkap ini diserahkan kepada kepala kampung Malomba (Logarodi). Tanggal 10 Juli 1945 ketiga polisi yang dalam pengawasan kepala kampung ini sempat melarikan diri. Manapo lari ketarakan kere lari ke Bambapula (dibunuh oleh masyarakat Bambapula) dan Jos Pasla lari ke Tolitoli. Yos Pasla inilah yang melaporkan kepada atasannya (pemerintah jepang).
Dengan dasar laporan ini pemerintah jepang mempersiapkan pasukan untuk menggempur masyarakat malomba. Turut dalam rombongan pemerintah jepanhg itu ialah : Imaki Ken Kanrikan (Bupati), Raja Tolitoli H. Moh saleh Bantilan, jum Po Co (Kepala Polisi) Danres dan Dua regu anggota polisi Jepang.
Rombongan berangkat dari Tolitoli menggunakan perahu turun di Malala, Langsung ke Tinabogan dan tepat hari kamis 18 Juli 1945 tiba di malomba jam 11 siang inilah puncak peristiwa. Rombongan pemerintah jepang pada saat itu disambut oleh masyarakat Malomba kurang Lebih 20 orang termasuk Lanoni, Bebelan, Taniangka, Mangi Darinong, Abd. Wahab, H. Hansah DLL. Setelah bertemu dan berhadap-hadapan antara masyarakat dan Pemerintah Jepang, Jum po Co (kepala Polisi) Danres memberi Isyarat supaya masyarakat duduk dan senjata (parang) harus dibuang jauh-jauh. Sesudah masyarakat duduk semua dan parang masing-masing mereka sudah buang, berarti keadaan dalam suasana aman, seorang polisi jepang bernama hamlet semen membuang tembakan keatas tanda aman. Tapi masyarakat sama sekali tidak mengetahui keadaan sedemikian itu, mereka mengertikan sudah mereka yang ditembak, tidak berpikir panjang lebar lagi langsung mengamuk. Lanoni langsung memotong Imaki Ken Kanrikan, Bebelan menikam JumPoco, suasana sudah kacau balau. Dalam keadaan demikian itu Imaki Ken Kanrikan dan Lanoni mati ditempat sedang bebelan dan H. Hamsah luka parah, tapi masih sempat menyingkirkan diri ketempat yang aman. Lanoni di makamkan di Desa Ogogasang dan Imaki Ken Kanrikan di Desa Tinabogan. Desa malomba pada saat itu tidak aman, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri sampai-sampai lari ke pantai timur (swapraja Moutong).
Satu bulan kemudian Pemerintah Jepang mengadakan operasi dan penangkapan kepada semua anggota pemberontak. Tantong Madayuni dan beberapa kawan sempat menyelamatkan diri kembali ke kalimantan dan nanti meninggal dunia tahun 1985, di pulau Duawan Kab. Berau.
Sedangkan Bebelan, Taniangka Mangi Darinong, Muhsin, H. Hamsah, Amat, Baco Lena, Abd. Wahab, Usman, Adam Labada dan Labuoku (Ambo Ratu) ditangkap dan dibawah ke Tolitoli, langsung diadili. Keputusan dari pengadilan Jepang kepada 11 orang penduduk malomba tersaebut dijatuhi hukuman mati (dipancung) dikaki gunung Panasakan Kab. Tolitoli, sedangkan 7 orang hanya disiksa oleh pemerintah jepang selama 3 bulan di tansi polisi Tolitoli, mereka ialah lamadu, Datu Radjaili, Jafar Bantilan, Baula, Patana dan Lasainong. Demi diketahui oleh masyarakat Kab. Tolitoli umumnya, peristiwa 18 Juli 1945 diMalomba dapat menyelamatkan rakyat desa Nalu yang pada saat itu kurang lebih 1000 orang dalam tahanan jepang karena mereka dituduh sebagai mata-mata musu. Karena rencana pemerintah jepang, sekembalinya Imaki Ken Kanrikan (bupati) dari Malomba rakyat Nalu tersebut akan dipancung semua.
Tuhan Yang Maha Kuasa masih melindungi jiwa rakyat Nalu yang sudah direncanakan oleh pemerintah jepang dibunuh.
Seandainya tidak ada perlawanan masyarakat Malomba 18 Juli 1945 itu pasti rakyat desa Nalu kurang lebih 1000 orang sudah dibunuh.
Berkat adanya peristiwa tersebut maka, selamatlah rakyat Nalu dari Hukuman mati dari pemerintah jepang.
Demikian riwayat singkat dari Persitiwa 18Juli 1945 di Malomba, semoga mendapat sambutan positifyang layak dari masyarakat demi generasi penerus.
Dondo, 10 Juli 2011
Yang membuat
H. Mahmud Radjaili
Ketua Majelis Adat Dondo
Langganan:
Komentar (Atom)

