Sabtu, 30 Juni 2012

Refresh Otak di Taipa Beach

Oleh: Bidang Info Dan Pers

Kaget, adalah mimik wajah sang penjaga pintu gerbang di salah satu objek wisata Kota Palu, “Silae Beach,” ketika melihat segerombolan orang berbaju merah, memakai motor, berlahan-lahan merapat dan tidak sabar lagi ingin masuk kelokasi objek wisata Silae Beach, sekitar sepuluh kilo meter dari kota Palu. Sabtu, 30 Juni 2012.

Kami memang sengaja mengunjungi objek wisata itu, sekedar merefresh otak yang sudah mulai merebah kemana-mana. Angin sepoi-sepoi pun sudah mulai menyentuh kulit. Menebarkan suasana alamnya yang begitu sejuk disekitar jalan sebelum pintu gerbang masuk. Karcis tanda masuk telah diserahkan kepada kami, yang harus ditukar dengan money lima ribu rupiah, sebagai bukti tanda masuk.

Pohon-pohon yang rindang, ada yang sudah tumbuh besar dan, ada pula yang masih berumur “jagung,” terlihat disisi kiri dan kanan kami. Ada beberapa fasilitas yang terdapat dilokasi sekitar 30 hektar itu; tempat permandian, alat band, villa, gazebo, kantin dan, lain-lain.

Utusan pun telah berangkat, untuk bertemu kepada penjaga gazebo. Kami hendak menyewa satu gazebo itu untuk melepas kepenatan otak. Gazebo itu, diatas air yang keruh, tepat pada posisi ditengah genangan air. Ada empat buah tempat duduk, dengan ukuran sekitar 3 x 3 meter di dalam gazebo itu. Dengan dilapisi gomi berwarna agak kecoklatan, yang dihiasi oleh hasil sobekan tangan-tangan nakal. Jika kita menengok kearah barat, maka lautan lepas yang biru, cukup bersih, jelas terlihat mata telanjang. Di bibir pantai itu, ada beberapa pondok-pondok kecil nan imut berjejer rapi, seakan memanggil kami untuk mendudukinya. Kicauan burung gelatik, dengan warna-warni nya yang indah nan menawan dan, suaranya yang merdu, memekik telinga, menjadi “penghibur” khas siang itu. Burung-burung gelatik itu bermain bersama kawan-kawannya yang lain. Di dahan pohon yang rindang, seakan mereka betah di wilayah itu. Burung itu juga terlihat mencabik-cabik dedaunan yang dibawa dari tengah lapang yang luas. Mengandung cukup makna, bahwa sisa-sisa dedaunan itu dibagikan kepada kawan-kawan nya yang lain, di arah utara gazebo itu.

Jika kita melihat kearah timur, maka pandangan mata tertuju pada sebuah gumpalan bukit yang, ditumbuhi oleh rumput Jepang, menjalar disekelilingnya. Gumpalan bukit itu, juga di kelilingi oleh air yang keruh. Juga bukit itu diapit oleh dua buah jempatan penyeberang. Untuk digunakan penghuni lokasi itu.

Semakin banyak terlihat aneka hiburan terlihat, maka segerombolan baju merah tadi semakin berminat. Tapi apalah daya, “ekonomi lemah” telah menjadi penghambat untuk menikmati nya.

“Saya ingin naik bebek-bebek itu, siapa yang mau traktir saya?” ungkap Linda dengan, menunjukkan muka kasihan.

“Kau naik dibelakangnya Dani saja, karena itu tidak di bayar,” singgung Muli dengan gurau nya.
Begitupun dengan Adri yang, ingin bernyanyi setelah mendengar suara electon dari arah selatan.

“Kiyat, temani saya menyanyi, kita harus menunjukkan suara indah kita kepada mereka yang, ada di lokasi ini,” singgung Adri.

“Marilah…!!! kayaknya saya juga ingin bernyanyi, saya sudah lama ingin bernyanyi namun, tidak pernah tercapai di panggung-panggung seperti itu,” balas Kiyat, sambil tersenyum, seakan berharap Adri serius mengajak nya.

Semua tercapai; Linda, Adri dan, Kiyat senang-gembira karena keinginan mereka terwujud. Begitupun dengan Dani yang sedang mengambil gambarnya sendiri dengan, memamerkan “dua jari” tangannya. Dan Mia terpancing akan hal itu, untuk bergabung bersama Dani yang sedang menggandakan seluruh tubuhnya di Handphone.

“Foto dulu saya Dani tapi, harus memakai Handphone nya Rudi, karena Handphone nya agak bagus,” gombal Mia.

Antara Dani dan Mia juga, senang akan aktifitasnya itu. Sementara “si baju” merah yang lain, sedang asyik berdiskusi dengan macam-macam tema.

Beberapa jam kemudian, kami berjalan mengelilingi Taipa Beach yang, hampir dipenuhi dengan rumah-rumah panggung. Rumah panggung itu dikelilingi oleh pohon-pohon berdaun hijau. Dalam perjalanan itu, kami bertemu dengan tiga orang ibu yang, umurnya sekitar 60-an tahun. Ibu itu bekerja sebagai “tukang sapu” di Taipa Beach.

Linda yang kami gelar “muka kamera” sering mengeluh ketika tidak ada yang, bersedia  mengambil profil tubuhnya melalui Handphone.  Hal itulah menjadi pemandangan indah bagi ketiga orang ibu itu. Pandangannya seakan tidak bisa berpaling dari Linda yang, sesekali mengeluarkan suara besar.

Namun dibalik kemewahan, kemegahan, dan sejuknya di Taipa Beach itu, satu hal yang harus diingat adalah, tempat itu milik swasta yang satu orang miskin pun sangat tidak berhak masuk dan menikmati segala sarana dan prasaran yang ada di dalam Taipa Beach.
Setelah hampir seharian kami ditempat itu, tiba waktunya untuk kembali ketempat parkir seraya, membunyikan motor, memasang helm dan pulang kehabitat masing-masing.

…..Sebuah Catatan Dari Arah Utara Kota Palu……

Kongres Ke-III IPPMD, Berjalan Sukses


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Suasan Penghitungan Suara

Menjalin Kekerabatan, dan meningkatkan kualitas serta membentuk anggota yang berdedikasi tinggi terhadap lembaga, adalah tema yang diangkat dalam Kongres ke-III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo. Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Tanggal 22 – 24 Juni 2012 di Gedung KNPI Palu.

Berbicara mengenai tema diatas, bahwa yang paling utama dan pertama, agar organisasi berjalan dengan baik adalah menjalin kekerabatan sesama anggota. Berangkat dari situasi saat ini, khususnya di Internal IPPMD itu sendiri, bahwa telah terjadi kelemahan kekerabatan. Oleh karena itu, perlu adanya menjalin kembali, mempererat dan, memperkokoh persaudaraan sesama anggota dan masyarakat Dondo itu sendiri.
Lalu mengapa hal itu terjadi? Dalam berbagai “peta politik” yang dituangkan masing-masing anggota, bahwa ada faktor individualistik yang menggerogoti jiwa anggota. Juga ada ketidakpedulian terhadap sesama dan organisasi, apalagi terhadap daerah Dondo. Hal itulah yang menjadi pokok persoalan yang, selama ini sulit untuk memecahkan persoalan dengan berbagai fenomenanya.

Kongres ke - III Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada dasarnya adalah membahas kembali Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sesuai dengan arus organisasi selama ini,  serta memilih dan menetapkan kepengurusan baru.

Serah Terima Jabatan
Banyaknya fenomena yang terjadi di internal IPPMD, menjadi suatu perdebatan yang alot. Lebih luas lagi, bahwa merapikan kembali, menyusun kembali dan, mempererat kembali terhadap situasi-situasi selama ini yang dianggap krusial. Hal inilah dengan, waktu dua hari itu dibebaskan membahas fenomena-fenomena yang ada.

Dipenghujung Kongres itu, para peserta Kongres dengan antusias memilih masing-masing hati nuraninya, untuk menetapkan Badan Pengurus pada periode 2012-2013. Alkiyat J. Dariseh dan Mulyadi Ali S. Opulu menjadi kandidat terkuat pada pemilihan itu. Suasananya pun menjadi tegang, bahkan terjadi dua kali pemilihan. Karena pada pemilihan pertama terjadi keseimbangan suara. Sehingga, dilakukan pemilihan kedua dan, dimenangkan oleh Alkiyat J. Dariseh, yang hanya berbeda satu suara dengan Mulyadi Ali S. Opulu.
Hingga pukul 05.00 pagi kongres ke-III  itu dilaksanakan, para peserta kongres pun terlihat kelelahan, karena tidak tidur semalaman. Setelah itu Kongres ke-III ditutup secara resmi oleh ketua terpilih, Alkiyat J. Dariseh.


Masyarakat Dondo Dan Fenomenanya


Oleh: Bidang Info Dan Pers

Masalah sosial yang terjadi di Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, telah banyak terjadi. Sehingga, proses dalam berinteraksi baik sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya tidak mampu diminimalisir dengan baik. Dari sektor kepemudaan pun sudah menjadi perselisihan, entah ada proses penyelesaiannya atau tidak. Namun, hal ini perlu di tanggapi dengan serius. Hingga kini fenomena yang terjadi di Kecamatan Dondo, diantaranya : Kemiskinan, Kejahatan, Disorganisasi keluarga, Masalah Generasi muda, Peperangan, Pelanggaran norma-norma dalam Masyarakat, Masalah Lingkungan.Sehingga, Kecamatan Dondo yang memiliki luas 624, 23 Ha dan, didiami oleh 21.828 jiwa penduduk itu, sewaktu-waktu akan menimbulkan Degradasi yang dahsyat nantinya.

Fenomena-fenomena sosial dalam masyarakat kita di atas, jika nuansa kastalistik tadi tidak diatasi secara sistemik dan segera, setidaknya ada 2 (dua) dampak paling berbahaya yang harus dituai oleh kita semua sebagai masyarakat  yang bertanggungjawab atas segala fenomena yang terjadi di dalamnya, yaitu, pertama “keterbelakangan abadi” bagi masyarakat mayoritas yang ditandai dengan rendahnya partisipasi dan kepedulian masyarakat atas fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya serta tidak mampu mengkritisi apapun kebijakan pemimpinnya.Kedua gejala disintegrasi yang semakin mengganas yang ditandai dengan menjamurnya gerakan-gerakan separatisme.

Menyikapi fenomena sosial yang terjadi di Dondo, hendaknya kita bersikap aktif dalam isyu fenomena tersebut.Maka hal ini perlu adanya pendiskusian yang lebih dalam, untuk mencarikan solusi “ampuh” dalam penyelesaian Fenomena sosial masyarakat Dondo.

Fenomena sosial masyarakat Dondo menjadi perdebatan serius di gedung KNPI, yang dilaksanakan oleh Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo, pada tanggal 22 Juni 2012. Turut hadir dalam diskusi itu adalah; Camat Dondo, Urip Halim S. Pd, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dapil Dondo, Rahmat T. Radjia dan, beberapa tokoh-tokoh masyarakat Dondo. Namun, satu hal yang menjadi perdebatan panjang saat itu, adalah mengenai perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi Sumber Daya Alam di kecamatan Dondo.

Perdebatan Mengenai Perusahaan Tambang

Menurut Urip Halim, “Jika masyarakat Dondo ingin meningkat taraf hidupnya harus membuka tangan lebar-lebar atas kedatangan investor asing itu. Saat ini, sumber daya alam di Dondo melimpah dan, hal itu harus dikelolah dengan mendatangkan perusahaan,” ungkapnya.

Tidak berbeda jauh dengan pendapat Urip Halim. Anggota Dewan asal Dondo juga mengatakan hal demikian, bahwa jika Dondo ingin maju kita harus membukakan “karpet merah” kepada mereka.

Pendapat itu menuai protes keras dari Mahasiswa Dondo. Bahwa pertambangan bukan jalan satu-satunya membangun daerah Dondo, bukan juga satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Dondo. Hal ini memang tidak masuk diakal, sebab dilihat dari berbagai daerah di Indonesia, bahwa daerah jajahan perusahaan tambang sama sekali tidak mendapatkan dampak positif. Paradigma berpikir harus dirubah, bukan karena melihat uang “merah” berlipat ganda lantas kita harus “menyambut salam” para investor asing itu.

Faktor-faktor lain juga harus dipikirkan lebih jauh, misalnya: kerusakan lingkungan, keadaan sosial masyarakat Dondo, dan lain-lain. Padahal pertanian dan perkebunan kakao di kecamatan Dondo berpotensi untuk meningkat, begitupun dengan objek wisata. Dari segi itu yang harus ditingkatkan, bukan menyambut baik para perusak lingkungan itu.

Menurut Ramadhani, salah satu Anggota dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD), mengatakan bahwa, “Merkuri dan Sianida adalah bahan kimia yang beracun dan, pastinya akan digunakan untuk pemisahan logam oleh perusahaan. Kita tidak bisa menelan mentah-mentah atas kebijakan pemerintah yang melegalkan perusahaan tambang itu di Dondo. Karena sangat tidak berpihak pada masyarakat, juga tidak menguntungkan masyarakat Dondo.”

Masih menurut Dhani, “Kami juga sudah turun kejalan untuk menolak eksplorasi PT. Citra Palu Mineral (CPM). Kami menolak tentunya mempunyai alasan yang kuat, bahwa dalam wilayah konsesi CPM itu, terdapat pemukiman dan lahan perkebunan warga.” Lanjutnya, “CPM ini adalah milik asing, walaupun sebagian saham milik Aburizal Bakrie. Perusahaan Bakrie di Sidoarjo telah menenggelamkan sejumlah desa, dan perusahaan Bakrie tersebut lepas tangan atas bencana yang ditimbulkan perusahaannya. Apakah kita membebaskan perusahaan Bakrie merusak lingkungan Dondo?” tegasnya, dengan suara yang lantang.
Diskusi itu berlangsung hingga pukul 21.20 wita. Dengan menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan dibawa ke kecamatan Dondo, untuk ditindaklanjuti. Namun, dalam catatan kami bahwa, tetap konsisten dalam penolakan Perusahaan Tambang di Kecamatan Dondo. Dan hal ini adalah HARGA MATI.