Oleh: Bidang Info Dan Pers
Kami
memang sengaja mengunjungi objek wisata itu, sekedar merefresh otak yang sudah
mulai merebah kemana-mana. Angin sepoi-sepoi pun sudah mulai menyentuh kulit.
Menebarkan suasana alamnya yang begitu sejuk disekitar jalan sebelum pintu
gerbang masuk. Karcis tanda masuk telah diserahkan kepada kami, yang harus
ditukar dengan money lima ribu
rupiah, sebagai bukti tanda masuk.
Pohon-pohon
yang rindang, ada yang sudah tumbuh besar dan, ada pula yang masih berumur
“jagung,” terlihat disisi kiri dan kanan kami. Ada beberapa fasilitas yang
terdapat dilokasi sekitar 30 hektar itu; tempat permandian, alat band, villa,
gazebo, kantin dan, lain-lain.
Utusan
pun telah berangkat, untuk bertemu kepada penjaga gazebo. Kami hendak menyewa satu gazebo itu untuk melepas kepenatan otak. Gazebo itu, diatas air yang keruh, tepat pada posisi ditengah
genangan air. Ada empat buah tempat duduk, dengan ukuran sekitar 3 x 3 meter di
dalam gazebo itu. Dengan dilapisi gomi berwarna agak kecoklatan, yang
dihiasi oleh hasil sobekan tangan-tangan nakal. Jika kita menengok kearah
barat, maka lautan lepas yang biru, cukup bersih, jelas terlihat mata
telanjang. Di bibir pantai itu, ada beberapa pondok-pondok kecil nan imut
berjejer rapi, seakan memanggil kami untuk mendudukinya. Kicauan burung
gelatik, dengan warna-warni nya yang indah nan menawan dan, suaranya yang
merdu, memekik telinga, menjadi “penghibur” khas siang itu. Burung-burung
gelatik itu bermain bersama kawan-kawannya yang lain. Di dahan pohon yang
rindang, seakan mereka betah di wilayah itu. Burung itu juga terlihat mencabik-cabik
dedaunan yang dibawa dari tengah lapang yang luas. Mengandung cukup makna,
bahwa sisa-sisa dedaunan itu dibagikan kepada kawan-kawan nya yang lain, di arah
utara gazebo itu.
Jika
kita melihat kearah timur, maka pandangan mata tertuju pada sebuah gumpalan
bukit yang, ditumbuhi oleh rumput Jepang, menjalar disekelilingnya. Gumpalan bukit
itu, juga di kelilingi oleh air yang keruh. Juga bukit itu diapit oleh dua buah
jempatan penyeberang. Untuk digunakan penghuni lokasi itu.
Semakin
banyak terlihat aneka hiburan terlihat, maka segerombolan baju merah tadi semakin
berminat. Tapi apalah daya, “ekonomi lemah” telah menjadi penghambat untuk menikmati
nya.
“Saya
ingin naik bebek-bebek itu, siapa yang mau traktir saya?” ungkap Linda dengan,
menunjukkan muka kasihan.
“Kau
naik dibelakangnya Dani saja, karena itu tidak di bayar,” singgung Muli dengan
gurau nya.
Begitupun
dengan Adri yang, ingin bernyanyi setelah mendengar suara electon dari arah selatan.
“Kiyat,
temani saya menyanyi, kita harus menunjukkan suara indah kita kepada mereka
yang, ada di lokasi ini,” singgung Adri.
“Marilah…!!!
kayaknya saya juga ingin bernyanyi, saya sudah lama ingin bernyanyi namun,
tidak pernah tercapai di panggung-panggung seperti itu,” balas Kiyat, sambil
tersenyum, seakan berharap Adri serius mengajak nya.
Semua
tercapai; Linda, Adri dan, Kiyat senang-gembira karena keinginan mereka
terwujud. Begitupun dengan Dani yang sedang mengambil gambarnya sendiri dengan,
memamerkan “dua jari” tangannya. Dan Mia terpancing akan hal itu, untuk
bergabung bersama Dani yang sedang menggandakan seluruh tubuhnya di Handphone.
“Foto
dulu saya Dani tapi, harus memakai Handphone
nya Rudi, karena Handphone nya agak
bagus,” gombal Mia.
Antara
Dani dan Mia juga, senang akan aktifitasnya itu. Sementara “si baju” merah yang
lain, sedang asyik berdiskusi dengan macam-macam tema.
Beberapa
jam kemudian, kami berjalan mengelilingi Taipa
Beach yang, hampir dipenuhi dengan rumah-rumah panggung. Rumah panggung itu
dikelilingi oleh pohon-pohon berdaun hijau. Dalam perjalanan itu, kami bertemu
dengan tiga orang ibu yang, umurnya sekitar 60-an tahun. Ibu itu bekerja sebagai
“tukang sapu” di Taipa Beach.
Linda
yang kami gelar “muka kamera” sering mengeluh ketika tidak ada yang, bersedia mengambil profil tubuhnya melalui Handphone. Hal itulah menjadi pemandangan indah bagi
ketiga orang ibu itu. Pandangannya seakan tidak bisa berpaling dari Linda yang,
sesekali mengeluarkan suara besar.
Namun dibalik kemewahan, kemegahan, dan sejuknya di Taipa Beach itu, satu hal yang harus diingat adalah, tempat itu milik swasta yang satu orang miskin pun sangat tidak berhak masuk dan menikmati segala sarana dan prasaran yang ada di dalam Taipa Beach.
Namun dibalik kemewahan, kemegahan, dan sejuknya di Taipa Beach itu, satu hal yang harus diingat adalah, tempat itu milik swasta yang satu orang miskin pun sangat tidak berhak masuk dan menikmati segala sarana dan prasaran yang ada di dalam Taipa Beach.
Setelah
hampir seharian kami ditempat itu, tiba waktunya untuk kembali ketempat parkir
seraya, membunyikan motor, memasang helm dan pulang kehabitat masing-masing.
…..Sebuah
Catatan Dari Arah Utara Kota Palu……
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

