“AKSI OKUPASI DPR TANGGAL 10 S/D 12 DESEMBER 2011”
Tepatnya pada tanggal 10 Desember 2011, Front Anti Kekerasan menggelar aksi Okupasi atau pendudukan di Kantor dewan Perwakilan rakyat (DPR) Prop. SUlteng. Pendudukan ini dilakukan karena selama ini pemerintah tidak pernah mengindahkan aspirasi dari rakyat, selama ini pemerintah hanya memberikan janji, dan melakukan diskriminasi serta intimidasi bahkan sampai penembakan dan perampasan hak-hak dari rakyat. Hal ini tentunya sudah melanggar konstitusi yang selama ini kita anut. sehingga pacuan dari Organisasi Kampus, LSM, Organisasi Paguyuban, dan Ormas ikut andil untuk memperjuangkan tuntutan rakyat dan menduduki DPR dengan mengusung tema Ganti Rezim Ganti Sistem. Kenapa …???? Karena rezim ini tidak mampu mensejahterahkan rakyat, hanya mencederai rakyat, membunuh rakyatnya sendiri.
Kami hanya mau meruntuhkan rezim SBY-Boediono. Rezim yang berbau Kapitalis sehingga hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Kami tidak rela rakyat tersiksa, dirampas haknya, serta didiskriminasi ketika membela haknya sendiri. Banyak contoh kasus yang terjadi di daerah ini khususnya di Sulawesi Tengah.Aksi Pendudukan ini berlangsung selama 2 malam 3 hari yang jumlah massanya mencapai ratusan orang.
Catatan Aksi :
Sabtu, 10 Desember 2011.
Semua yang tergabung dalam Front Anti Kekerasan berkumpul di taman Gor palu sekitar pukul 09.00. sambil menunggu kawan-kawan lain kami berdiskusi serta memperbaiki semua atribut aksi dan menyanyikan lagu-lagu aksi, puluhan polisi yang berjaga-jaga di lokasi ini guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tak lama kemudian Solidaritas Perempuan dan Organisasi-organisasi lain telah datang dan meleburkan massanya dalam front ini.
Sekitar pukul 10.00 massa aksi yang terdiri berbagai elemen organisasi antara lain : Solidaritas Perempuan Palu, Jatam Sulteng, KPKP-ST, YPR, SHI, PBHR-ST, MAPALA KUMTAPALA, BEM HUKUM, AMAK, IPPMD - KEC DONDO Tolitoli, KPW, PRD, SRMI dan LMND tersebut berangkat dengan titik star di Taman Gor tersebut, sekitar 500 orang, dengan 24 isyu turunan yang telah disepakati bersama.
Front Anti Kekerasan melanjutkan perjalanan ke BRI, sekitar pukul 12.00 Wita kami sampai ke finish yaitu DPR Sulteng, disini front Anti Kekerasan berorasi menuntut keadilan kepada penguasa negeri ini. Masing- masing ketua Lembaga menyampaikan orasi dan tuntutannya.Sejam kemudian tiba-tiba ada front Rakyat Miskin dengan massa mencapai 300 orang datang ke lokasi yang sama dan dengan tuntutan yang sama pula. Dengan semangatnya bernyanyi lagu pembebasan lalu menyatu dengan massa aksi Front Anti Kekerasan (FAK). Halaman Kantor DPR pun full dengan massa aksi, bendera dan atribut lembaga berwarna-warni meramaikan aksi tersebut.

Pukul 19.00 Wita massa aksi yang tergabung dalam Front Anti Kekerasan dan Front Rakyat Miskin keluar dari gedung DPRD menuju kejalan, disini kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan sambil membagikan selebaran kepada pengguna jalan di kota Palu. Sekitar dua jam kami dijalan, kami kembali ke Rumah Rakyat (DPRD). Agenda kami selanjutnya adalah Diskusi bersama Aktivis lama yang memberikan ilmu kepada kami, membicarakan pengalaman hidup mereka selama memperjuangkan Rakyat selama ini, bukan hanya itu ilmu-ilmu pergerakan telah kami dapat pada malam itu. Diskusi berakhir pukul 02.00 Wita (subuh), selesai diskusi itu kami membentuk diskusi kecil-kecilan lagi secara berkelompok-kelompok. Pada malam ini banyak massa aksi yang tidak memejamkan matanya, asyik dan terlena dalam alur diskusi yang bermakna itu yang penuh dengan dedikasi yang tinggi terhadap rakyat. Menyadari bahwa selama ini rakyat telah tertindas dengan melihat dan mendengar keadaan yang ada, kenyataan-kenyataan ini tentunya menjadi motivasi para aktivis muda untuk segera turun kejalan menyuarakan dengan lantang mengenai hal tersebut.
Minggu, 11 Desember 2011
Pukul 06.00 nasi kuning telah datang, sarapan pagi pun akan segera dimulai, entah dari mana datangnya suplay logistik ini, kami hanya menyantapnya dengan lahap dengan kawalan-kawalan Aparat keamanan di samping kami. Setelah makan ada beberapa orang yang ditugaskan untuk mencari basis – basis lain guna bergabung dalam massa aksi. Sepanjang hari ini kami hanya isi dengan diskusi-diskusi khusus mengenai meninggalnya sang Revolusioner Muda, aktivis Muda yang rela membakar dirinya hingga meninggal. Forum diskusi membedah serta menganalisa dan mencari data-data fakta mengenai meninggalnya Aktivis muda yang bernama Sondang Hutagalung. Data pun telah didapat dan ternyata Sondang nekad membakar dirinya di depan Gedung istana Merdeka tersebut akibat kekecewaannya, kejenuhannya dengan rezim SBY-Boediono yang selama ini telah gagal dalam pemerintahannya.
Data-data tersebut dibuatkan selebaran untuk disebarkan kepada seluruh warga palu pada malam nanti. Sekitar pukul 18.30 masa aksi turun kejalan, bernyanyi dan membagikan selebaran. Walaupun dengan kawalan polisi masa aksi tetap melanjutkan aksinya hingga pukul 21.00 Wita. Selanjutnya massa aksi berkumpul dan membuat lingkaran sambil memegang lilin tiap orangnya. Malam ini adalah malam renungan kami mengenang, berduka cita atas meninggalnya Aktivis Muda juga sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Sondang Hutagalung, beliau adalah Aktivis HAM yang juga sebagai aktivis Kampus yang membela Rakyat yang selama ini tertindas.
Menyanyikan lagu pembebasan dan ada yang berpuisi, “ wahai Sondang Sang Aktivis Muda, kami akan melanjutkan perjuanganmu, kami akan melakukan Revolusi dinegeri tercinta ini sampai tetes darah terakhir. Perjuanganmu adalah perjuangan kami, perjuangan rakyat Indonesia untuk menggulingkan Rezim Kapitalis ini, jiwa kami semakin menggelora setelah mendengar engkau pergi”.
Renungan selesai sekitar pukul 23.00, agenda selanjutnya adalah evaluasi aksi-aksi yang dilakukan beberapa hari lalu serta mempersiapkan aksi pada esok hari. Malam ini tidak sedikit pula kawan-kawan masa aksi yang tidak menutup matanya, lagi-lagi asyik dalam suasana diskusi, suasana keakraban ditemani dengan terangnya bulan bersatu menjadi suatu aksi Solidaritas yang tidak akan pernah luntur walaupun dari berbagai komponen organisasi yang berbeda-beda, sehinggah saling tukar ilmu pun terjadi dengan sendirinya.Tak terasa hari sudah pagi, beberapa masa aksi ditugaskan untuk ke kampus masing-masing guna mencari basis masa untuk ikut bergabung dalam front ini.
Pukul 10.00 massa dari Uniiversitas Tadulako sekitar 200 orang dengan memakai kendaraan roda dua telah tiba di Rumah Rakyat dan langsung bergabung dengan masa aksi yang sedang menunggu sejak pagi tadi. Masa semakin banyak, semakin ramai bersorak-sorak “usir Tambang Asing”. Sesuai rencana semalam bahwa masa aksi akan keluar kejalan (kedepan Rumah Rakyat), di jalan kami membentangkan spanduk dan baliho yang berukuran 4 x 4 meter serta bendera dan atribut aksi semakin ramai dijalanan. Untuk menuntut bahwa Rezim kapitalis (SBY-Boediono) harus turun. Front yang tergabung antara Organisasi Kampus, NGO, Ormas dan Masyarakat ini menyampaikan aspirasinya sesuai dengan tema. Tak lama kemudian massa aksi yang tergabung dalam Front anti Neolib datang dan bergabung dengan masa aksi kami. Masa aksi menutup jalanan sehingga polisis harus menutup akses jalan Samratulangi.
Sebelum aksi berakhir sekali lagi kami menyanyikan lagu untuk mengenang Sondang Hutagalung dan berjanji akan meneruskan perjuangan beliau hingga rezim ini akan tumbang. Pukul 12.00 aksi berakhir dengan damai, kami para pengurus-penguru lembaga langsung menuju ke kantor Solidaritas Perempuan untuk evaluasi dan menentukan strategi ampuh selanjutnya.
“ MATI ITU ADALAH HIDUP DALAM KEADAAN TERTINDAS, DAN HIDUP ITU ADALAH MATI DALAM MELAWAN PENINDASAN”
HIDUP RAKYAT…….!!!!
HIDUP MAHASISWA……!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar